Ketika Guru Tak Dihargai, Maka Matilah Budi Pekerti



Saya memang seorang guru tapi saya juga pernah menjadi murid. Ada banyak perbedaan terasa. Tentang bagaimana saya dan teman-teman saya memandang bapak ibu-guru, dengan cara pandang anak-anak didik zaman sekarang sungguh jauh berbeda. Kadang sedih sekali, karena ‘ta’zimul ustad’ yang dulu menjadi pedoman kami untuk meraih barokahnya ilmu kurang begitu dikenal anak-anak zaman sekarang. Sebagian dari mereka malah menganggap guru layak teman sehingga kadang berlaku kurang sopan. Hal ini bisa kita lihat dari banyaknya kasus di media massa tentang tindak kriminal murid kepada gurunya begitu juga sebaliknya.

Mari Kita Tilik Alasannya!

Bapak-Ibu… Sebelum metode pembelajaran berkembang, guru-guru kita hanya mengajar kita dengan satu metode yaitu ceramah. Metode ceramah dalam pelaksanaanya, siswa hanya duduk, mencatat dan mendengarkan semua penjelasan guru. Lalu siswa mengerjakan tugas tertulis atau hafalan. Kemudian dunia berkembang begitu juga pola pikir anak dan juga gaya pengajaran yang harus juga mengikuti zaman. Datanglah metode-metode baru dalam pembelajaran yang lebih interaktif dan kreatif. Metode yang memberi ruang untuk siswa untuk mengembangkan ilmu dan pengetahuan dengan mengajukan pertanyaan-pertanyaan serta menyampaikan ide dan gagasan. Diantaranya Metode Role Playing, Problem Solving, Cooperative Script, debat dll. Metode-metode ini adalah metode yang menekankan pada High Order of Thinking yaitu suatu pola pikir bahwa pengetahuan bukan saja dihapal, namun harus diaplikasikan.

Guru zaman sekarang bukan lagi sebagai pusat ilmu. Kita hanya sebagai fasilitator dan para siswa dituntut untuk lebih kreatif dan lebih berpikir kritis. Hmm… perkembangan yang sangat baik sebenarnya! Namun karena peran guru yang tak lagi terpusat inilah yang kadang membuat anak didik kadang bersikap melampui batas. Untuk itu, guru zaman sekarang juga harus lebih tegas untuk memberikan batasan kapan siswa bisa menyampaikan ide dan gagasan, kapan ia harus mendengarkan intruksi dan penjelasan guru. Dan yang tak boleh lupa adalah mari kita siapkan pula alasan mengapa yang ini boleh tapi yang itu tidak dengan mempertimbangkan pula alasan anak-anak didik kita.

Bagaimana Pandangan Anak Didik Zaman Sekarang?

Guru kuno!

Masa apa-apa harus izin dulu!

Ini salah.. itu salah!

Bawa hp pun tidak boleh!

Masa kita harus selalu tunduk dan patuh!

Apakah Boleh Murid Berpikir Begitu?

Dunia memang sudah berubah. Kita pun sebagai guru harus lebih inovatif dalam mendidik dan mengajar anak-anak didik kita. Namun saya percaya nilai-nilai moral dalam pendidikan jangan sampai berubah.

- Anak didik harus tetap memiliki rasa hormat dan ta’zhim pada guru

- Disiplin dan rasa menghargai harus tetap dipegang teguh oleh anak didik juga bapak-ibu guru

- Mari kita berusaha menjadi guru yang benar-benar guru. Yang pantas untuk dita’zhimi oleh murid dengan menjadi role mode yang baik dalam sikap dan menyikapi anak-anak didik kita.

- Pun berharap peran orangtua di rumah dalam mendidik sopan santun juga sangat penting.

Siapa yang salah?

Banyak faktor mempengaruhi hal ini. Diantaranya; karena tuntutan era yang serba modern pelajaran terkait akhlak dan keagamaan kalah porsi dg pelajaran umum. Adanya undang2 yang membuat guru seolah di serba salah dan dibatasi dalam mendidik muridnya. Gaji guru yang kurang begitu dihargai, membuat sebagian besar dari kami harus mencari penghasilan lain untuk mencukupi kebutuhan. Keadaan ini sedikit banyak mempengaruhi kenerja guru dalam mengajar. Ke-kurang-siapan guru saat mengajar di kelas akan sangat mempengaruhi pandangan murid terhadap gurunya. Ini bisa jadi titik awal anak didik kurang menghargai gurunya. Selain itu, arus zaman yang menyebabkan orangtua-orangtua zaman sekarang cenderung. Terlalu sibuk mencukupi kebutuhan materi keluarga sampai tidak ada cukup waktu untuk membersamai anak. Anak-anak cenderung dimanjakan kekayaan namun kurang kasih sayang.

Apa yang harus dilakukan?

Tidak ada yang namanya terlanjur! Semua bisa diperbaiki. Jika anak anda memiliki gelagat yang tidak baik di rumah. Misal; keluar bahasa yang tak sopan, maunya menang sendiri, mudah tersinggung dan marah. Maka ini bibit anak anda mengalami kesalahan dalam proses didiknya. "Proses didik" tidak hanya dilalui anak di sekolah saja lho ya! Semua kegiatannya sepanjang usia adalah proses didik anak. Apa yang ia lihat, dirasakan, didengar adalah proses anak belajar. Jadi jika anak ada tanda-tanda seperti ini anda perlu waspada. Mari bapak-ibu.. mulai sekarang tanamkan empati pada anak anda. Begitupun, untuk kami para guru sudah menjadi kewajiban kami untuk berusaha menjadi guru yang lebih baik lagi. Dengan menjadi role model atau contoh yang baik untuk anak-anak. Juga mengoptimalkan kemampuan diri untuk lebih profesional dalam mengajar.agar medapatkan pandangan yang baik dari anak.  

Mengajarkan Rasa Empati Sedini Mungkin

Mengapa empati? Anak yang memiliki rasa empati yang tinggi akan punya rasa hormat pada orang yang lebih tua. Anak yang punya empati memiliki kepedulian pada sesama. Anak yang terlatih empatinya akan memikirkan perasaan orang sebelum bertindak.Jika semua anak Indonesia punya empati yang tinggi. Maka saya yakin tak ada lagi kasus-kasus miris yang terjadi baru-baru ini. Berharap kedepan kita memiliki generasi-generasi muda yang berilmu, beramal, dan beradap!

14 comments

  1. MasyaaAllah
    Kalau kami (saya dan teman2 sesama walimurid) malah takjub bgt dg Bu guru TK-ny anak kami mba
    Beliau2 ini pagi2 udah stand by d sekolah (walau saat ini kembali online)
    Anak2 pulang, mereka ga langsung pulang
    Sore hari lanjut ngajar ngaji
    Kadang kami mikir keluargany Bu guru ini apa gapapa ya
    Makany salut bangettt
    Doa kami yg terbaik untuk semua guru di Indonesia
    Semoga kebaikan para guru terhadap anak didikny dibalas dengan kebaikan berlipat pula sm Allah
    Aamiin Ya Rabb

    BalasHapus
  2. Saya setuju dengan menanamkan empati ini Bu. Mempunyai empati, melihat dari perspektif orang lain, adalah bekal yang dapat membuat hidup kita lebih baik, insyaallah.

    BalasHapus
  3. Sedih banget ya bu dulu juga saya pernah jadi guru honorer yang dibayar perjam dibagi 4 dalam sebulan. Klo saya ga masuk, uang dipotong dan uang tersebut gatau kemana serta untuk apa. Semoga pendidikan lebih baik lagi guru ga cuma pakai metode ceramah lagi dan yang paling penting adab dulu sebelum ilmu, sekolah semahal apapun, guru bukan pesuruh tapi partner orang tua.

    BalasHapus
  4. miris sih ya kalau sekarang guru itu sudah tidak disegani seperti dulu lagi, penanam empati ini memang penting apalagi ke yang lebih tua-dituakan seperti gutu ini karena merekalah orang tua anak di sekolah.

    BalasHapus
  5. Sepakat harus mengasah empati anak-anak kita ya Mbak? memang seiring perkembangan teknologi yang berimbas pada perkembangan berbagai lini kehidupan, budi perkerti tetap harus digalakkan, dan keluarga adalah tempat pertama, pondasi hal ini.

    BalasHapus
  6. Jaman sekarang emang beda banget ya sama jaman sekarang. Pola pikir dan adabnya udah beda banget yah,harus super sabar deh ngajarin mereka ya.

    BalasHapus
  7. Kalau menurut sy nih, murid harus tetap beretika di depan siapa pun termasuk guru, trus guru jg mesti demikian.

    BalasHapus
  8. Betul sekali Mbak, rasa empati memang sangat penting. Tidak gampang ya untuk menjadi seorang guru di era sekarang. Semoga segala urusan dan mendidik anak-anak dapat dimudahkan

    BalasHapus
  9. Terima kasih sharingnya Nyonya Guru. Sangat mencerahkan sekali. Tulisan ini juga jadi mengingatkan saya dengan masa saat masih bekerja sebagai guru. Memang perilaku murid zaman sekarang beda sekali dengan masa saat saya masih menjadi murid dulu. Murid-murid dulu masih pada nunduk dan patuh sama gurunya kalau sekarang malah sebaliknya. Miris sih tapi di sini juga jadi tantangan bagi guru ya untuk bisa menghadapi murid dengan tegas sehingga murid tidak bisa seenaknya memperlakukan guru dengan kurang sopan

    BalasHapus
  10. Salah satu masalahnya pada ortu yang tidak mengajarkan pada anak bahwa guru adalah orang tua yabg patut dihormati. Wali murid sekarang, sy perhatikan juga makin kurang respek sama guru. Semua pihak harus koreksi

    Andai semua

    BalasHapus
  11. nasib guru di negeri kita ini sungguh tidak sepadan ya dengan jasa yang mereka berikan. gaji sangat kecil sehingga tidak menjamin kesejahteraan mereka. lalu beberapa tahun belakangan juga sering muncul kasus guru yang malah direndahkan oleh muridnya. ironisnya lagi kadang orang tua murid juga tidak menghormati guru dari anaknya

    BalasHapus
  12. Mengajar di zaman semakin canggih memang penuh tantangan ya... Jempol buat para guru yang berusaha semaksimal mungkin untuk mendidik anak

    BalasHapus
  13. Mengajarkan anak menghormati yang lebih tua terutama seorang guru memang penting yah, apalagi diajar sejak dini

    BalasHapus