Resume Workshop History Telling Bung Karno



Di saat emak-emak lain sibuk buat kue-kue lebaran dan bersih-bersih. Alhamdulillah saya malah dapat kesempatan untuk ikutan workshop di perpus kebanggan orang blitar; Perpustakaan Bung Karno. Maju mundur sebenarnya karena mepet banget dengan lebaran. Namun setelah mengikuti workshop, saya menyesal! Menyesal karena kurang lama..he..he.. Secara, seru banget dan berilmu banget, Masya Allah!

Ini mungkin kali ketiga saya ngikuti workshop yang diselenggarakan Perpustakaan Bung Karno. Dan alhamdulillah ketiganya berisi semua. Workshop terakhir, di akhir puasa kemaren terkait history telling.

What It This History Telling?

Istilah history telling mungkin kurang familiar ya. Apalagi digunakan sebagai judul seminar. Beda dengan istilah story telling yang sudah tidak asing di telinga kita. It's okey, Bun! Sebenarnya istilah ini juga masih asing buat saya. Namun saya meyakini saat itu jika history telling masih bagian dari story telling. Sehingga saya tetap antusias ikut walau kurang faham tentang materi yang akan disajikan. Karena sungguh jika ada banyak kesempatan mendalami ini, saya suka sekali dengan hal-hal terkait story telling, membaca dongeng dan semacamnya. Inilah yang kemudian menggerakkan hati saya untuk cuss daftar! Walau saat itu, waktu tersibuk buat emak-emak.  Dan alhamdulillah keputusan saya tidak salah karena saya bertemu dengan narasumber yang luar bisa. Sosok narasumber yang terkenal namun tetap ramah dan gak bisa diem .. he.. he

Siapa Beliau?

Beliau adalah pendongeng senior dengan nama lengkap Mochamad Ariyo Faridh Zidni ini adalah pendongeng Indonesia yang berprestasi hingga luar negeri. Kak Aio, biasa orang-orang menyapanya tak kenal lelah menyebarkan virus dongeng di seluruh penjuru tanah air hingga saat ini. Hal ini ditunjukkan dengan keaktifannya mengenalkan dongeng kepada generasi muda dengan melakukan pelatihan-pelatihan di penjuru Indonesia. Sampai akhirnya kemaren datang berkunjung ke blitar dengan tujuan yang masih sama menyebarkan virus  dongeng kepada kawula muda. Bagi Ayah-Bunda yang pengen kepoin lebih lanjut tentang beliau bisa cek instagram beliau @aiodongeng. Jangan lupa ajak anak-anak untuk cerita-cerita seru beliau di Storees

Lanjut ke topik inti ya Bun! Membahas tentang workshop saya kemaren terkait history telling tentang bung karno.Seperti yang telah saya katakan sebelumnya jika istilah history telling kurang familiar di masyarakat. Ayah-bunda bisa coba searching, kata history telling memang belum banyak dan mungkin belum pernah dibahas. Namun setelah tahu history telling ity apa, saya yakin metode bercerita ini sungguh lebih mengena untuk anak-anak digunakan sebagai pembelajaran mata pelajaran Ilmu Sejarah atau Sejarah Kebudayaan Islam lho!

History Telling, Bagian dari Story Telling

Menurut kak Aio, History telling adalah kegiatan menyampaikan sejarah dengan metode bercerita. Sama halnya dengan story telling, history telling tetap menggunakan tata cara yang sama. Cuma bedanya, history telling harus sesuai data dan fakta. Jadi jika bapak-ibu guru ingin menggunakan ini sebagai bahan belajar sebaiknya tidak asal cerita, atau bahkan menambah atau mengurangi cerita asli yang ada dalam sejarah. Perlu riset khusus untuk pengembangan ceritanya. Tentang siapa tokoh yang akan kita ceritakan, bagaimana karakternya sampai cara bicaranya.Beda dengan story telling yang kita bisa menambah atau mengurangi sesuai kebutuhan cerita, metode cerita history telling, pencerita perlu untuk menemukan kebenaran cerita sebelum menceritakan ke audiens atau peserta didik jika disampaikan sebagai metode ajar. Namun selebihnya sama saja.

Elemen Dasar History Telling/Mendongeng


Secara umum, baik itu history telling, story telling ataupun mendongeng pada umumnya memiliki elemen dasar dalam bercerita

Tujuan Bercerita

Pendongeng yang lahir pada tanggal 18 Juni 1980 ini juga mengatakan bahwa sebelum membacakan cerita, pencerita sebaiknya menentukan tujuan yang ingin bercerita. Agar kita bawa sebagai pencerita bisa menentukan kemana cerita tersebut kita sampaikan. Untuk itu, sebelum bercerita kita perlu meriset dulu kepada siapa cerita itu kita sampaikan. Contohnya saja, ketika kita akan bercerita tentang Bung Karno kepada anak SD, maka cerita yang sesuai adalah cerita-cerita terkait masa kecil beliau atau cerita-cerita lain yang dapat memicu semangat anak-anak untuk mengejar cita-citanya. Bukan cerita terkait kisah cinta Bung Karno yang kurang cocok jika diceritakan untuk mereka.

Isi Ceritanya

Hal yang pertama perlu diperhatikan sebelum bercerita adalah isi ceritanya. Sebelum bercerita kita harus benar-benar memahami unsur intrinsik ceritanya. Alurnya bagaimana, bagaimana karakter setiap tokohnya sampai pesan moral apa yang kita temukan dalam cerita. Hal ini bertujuan agar kita benar-benar mengenali cerita yang akan kita sampaikan.

Dalam kesempatan kemaren kak Aio juga menyampaikan kepada kami untuk memilih cerita yang benar-benar kita sukai. Karena bercerita tentang sesuatu yang kita sukai membuat kita nyaman menceritakannya. Cerita yang membuat kita nyaman akan sampai dengan baik kepada audiens. Oleh karena itu, cerita hal penting. Dan penguasaan cerita membutuhkan latihan yang agar kita bisa tampil dengan percaya diri menyampaikan cerita.

Suara, Kontak Mata, Ekspresi dan Bahasa Tubuh

Dalam melakukan kegiatan history telling, ada empat elemen yang perlu kita perhatikan, yaitu suara, kontak mata, ekspresi wajah, dan gerak tubuh. Empat elemen ini akan sangat menentukan apakah cerita yang sedang disampaikan atau tidak.
  • Tinggi rendahnya suara harus sangat diperhatikan karena dapat menentukan suasana cerita. Misalnya saja, jika akan menceritakan cerita dalam bentuk percakapan orang dengan nada sedih maka suara yang dibutuhkan sedikit diturunkan dan dilembutkan dan selanjutnya.
  • Kontak mata saat bercerita juga harus diperhatikan dan kontak mata yang benar-benar dapat dilihat oleh audiens dengan santai dan alami kepercayaan diri dan kesiapan juga jam terbang. Jadi jika kita masih pencerita atau pendongeng yang pemula tidak perlu ragu untuk mencoba karena hasil yang baik akan datang seiring dengan proses dan waktu. Namun  untuk bapak ibu guru atau ayah bunda yang membacakan cerita kepada anak-anaknya sendiri, seperti kepercayaan diri pasti bukan masalah karena berhadapan dengan anak sendiri.
  • Ekspresi atau mimik wajah saat bercerita juga harus disesuaikan dengan ceritanya ya bun! Jika pada bagian yang dipikirkan, maka ekspresi saat bercerita juga menunjukkan hal-hal yang dipikirkan. Namun juga jangan terlalu berlebihan karena bakal kebaca anak-anak. Dan beberapa kesalahan kecil seperti ini akan mengurangi kemenarikan bacaan-bacaan cerita kita.
  • Gerak tubuh atau bahasa tubuh dalam cerita tidak bisa dibuat-buat. Karena jika gerakan tubuh terlalu besar dan dihafalkan maka akan terlihat dibuat-buat dan akan mengurangi kemenarikannya. Jadi tentang gerakan tak perlu dipertanyakan, tak perlu dihafalkan. Biarkan tubuh bergerak sesuai porsinya.

Demikian materi yang saya dapat pada workshop akhir puasa kemaren di Perpustakaan Bung Karno Blitar. Sebetulnya masih ada beberapa info penting lainnya terkait History telling yang belum saya bahas disini. Pantau terus blog saya ini ya Bun! Insya Allah akan rutin berkala saya share ilmu dan opini saya terkait pendidikan anak dan parenting.

Terima kasih kepada Perpus Bung Karno atas yang telah diberikan. Semoga kedepannya masih ada kesempatan memberi saya kesempatan untuk ikut pada event-event berilmu lagi. Tak lupa ucapan terimakasih juga saya kepada narasumber, Kak Aio atas ilmunya yang luar biasa yang insya Allah sangat bermanfaat bagi saya sebagai metode belajar di kelas.

8 comments

  1. Naaah history telling menurutku cocok buat orang2 yg suka bosan kalo baca ttg sejarah, Krn kebanyakan membosankan kalo sekedar dibaca doang. Jadi dengan cara bercerita gini, LBH bisa masuk ke pikiran ya mba..

    Aku sendiri kalo utk belajar sejarah, lebih suka datang ke museum. Ntah kenapa LBH masuk juga drpd sekedar baca bukunya. Tergantung preference masing2 orang dalam belajar sih 😊

    BalasHapus
    Balasan
    1. Benar sekali mbak. History telling memang cocok untuk kita-kita yang kurang suka sejarah. Karena lebih menyenangkan dan lebih ringan karena sejarah dibungkus dalam rangkaian cerita

      Hapus
  2. wah ini keren ya, salah satu solusi yang baik, makasih sharingnya

    BalasHapus
  3. Budaya menfongeng ini memang harus selalu hidup ya, Mbak Sayidah. Terima kasih telah berbagi. Selamat malam.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Iya bun.. Siapa lagi yang melestarikan kalau bukan kita. Walau bisanya cuma untuk anak dan anak didik ini.. hi.. hi..

      Hapus