Tips Belajar di Rumah Ala Pakar Homeschooling




Efek anak-anak belajar di rumah membuat kita, para orangtua tak lagi khawatir karena membantu social distancing untuk anak-anak. Karena sebagaimana kita ketahui penyebaran virus Corona di Indonesia sangat cepat. Sedang anak dan manula adalah yang paling rentan karena imunitas mereka yang cenderung lebih rendah ketimbang kita para orangtua.

Namun tak bisa kita pungkiri, menjadi asisten (sementara) gurunya anak-anak ternyata gak semudah kita bayangkan. Saya adalah seorang pengajar yang terbiasa mendidik anak dengan karakter dan tingkat usia yang beragam. Tapi saya akui mengajar anak sendiri punya sensasi yang berbeda. Mengajar anak sendiri ternyata jauh lebih sulit. Anak cenderung lebih manja karena merasa saya adalah orang terdekatnya. Belum lagi kita harus bisa menumbuhkan rasa malas karena mereka kurang bersemangat belajar sendiri tanpa teman-teman seperti biasa. 

Terus bagaimana mengkondisikan pembelajaran di rumah lebih efektif

Bagi anda yang masih suka kebingungan menentukan konsep belajar yang efektif dan menyenangkan untuk anak. Mungkin tips belajar ala Pakar Homeschooling, Ira Puspitasari dan Aar Sumardiono ini dapat membantu!

1. Sebaiknya Orangtua Tidak Hanya Sekedar Memerintah

Anak zaman sekarang adalah anak-anak yang cerdas. Jika orangtua hanya sekedar memerintah saja, bisa jadi proses belajar di rumah tidak akan berjalan. Dalam hal ini, Orangtua sebaiknya meluangkan waktu terjun langsung mendampingi anak. Orangtua adalah sebagai tim belajar anak yang siap mencari solusi jika anak dalam kesulitan dalam belajar. Semakin santai relasi kita dengan anak maka semakin mudah proses belajar di rumah dapat dilalui

2. Konsep Belajar di mana Saja, Kapan Saja dan Bersama Siapa Saja

Homeschooling adalah alternatif belajar selain sekolah. Orangtua mempunyai tanggung jawab untuk memberikan pendidikan untuk anak di rumah. Kita bisa memilih konsep belajar seperti apa yang dirasa efektif untuk anak. Mungkin bisa jadi, kita buat kesepakatan dengan anak tentang belajar seperti apa yang nyaman menurut mereka.

Tapi apapun konsep belajar yang kita inginkan, perlu sekali menanamkan kepada anak bahwa di manapun tempatnya adalah tempat belajar. Contohnya : di dapur kita anak belajar pembiasaan membantu orangtua, mengenal jenis sayuran dll; Di ruang keluarga, anak belajar bertoleransi dengan saudara, dan kasih sayang; begitupun di tempat lainnya.

Anakpun perlu dibiasakan untuk menerima siapapun sebagai partner belajar. Belajar tidak harus bersama guru. Belajar bersama ibu, ayah, ataupun kakak juga tak kalah menyenangkan.

Selain itu, anakpun perlu dibiasakan jika belajar tidak hanya dari jam 07.00-12.00. Belajar di rumah adalah belajar sepanjang hari. Waktu makan siang bersama keluarga, anak belajar adabnya makan, melatih panca inderanya dll. Tiba saatnya waktu sholat, anak melakukan pembiasaan wudu dan sholat untuk yang beragama islam. Dengan demikian belajar tak lagi menjadi beban untuk anak tapi menjadi suatu pembiasaan yang menyenangkan karena tidak terikat waktu, tempat dan kepada siapa kita belajar.

3. Orangtua Sebagai Fasilitator, Motivator dan Pemantik Ide

Belajar di Rumah Berbeda dengan di Sekolah. Ada perbedaan mendasar antar keduanya. Misalnya saja dalam hal sarana dan prasarana.kalau di sekolah ada bangku-bangku khusus juga ruang khusus. Sedang di rumah sarana yang digunakan adalah sarana nyata dan langsung bisa praktek. Komunikasinya pun berbeda. Kalau di sekolah pakai bahasa formal. Sedangkan jika anak belajar di rumah bahasa yang digunakan adalah bahasa keseharian yang biasa digunakan.

Perbedaan yang mencolok tersebut, mengakibatkan suasana belajar yang berbeda. Dengan demikian sudah selayaknya para orangtua menerapkan metode pendekatan yang berbeda pula
Saat anak belajar di rumah, Orangtua sebaiknya sebagai fasilitator, motivator, dan pemantik ide belajar anak. Memfasilitasi kebutuhan belajar dan minat anak. Memberikan kenyamanan bagi anak agar ia semangat menggali potensi diri. Dalam waktu-waktu tertentu, orangtua juga harus sebagai motivator dan pematik ide belajar anak. Membantu meraih tujuan yang ditetapkan dan menjaga agar kualitas proses dan hasil belajar anak agar optimal. Orangtua juga sebaiknya mampu menjadi teman diskusi yang baik untuk menajamkan gagasan dan kualitas hasil belajar anak. Diskusi dalam proses belajar anak di rumah sangatlah penting. Untuk menambah persepektif anak agar lebih beragam karena kadang anak mengerjakan tugas sekedarnya. Padahal mungkin saja anak mampu lebih dari itu. Sehingga perlu adanya sedikit dorongan agar anak lebih termotivasi dalam mengembangkan idenya menjadi lebih optimal.

4. Adanya kesepakatan dan Aturan Main

Adanya aturan main dan kesepakatan adalah salah satu cara mendisiplinkan anak tanpa harus teriak-teriak dan berlaku keras. Jika komitmen kesepakatan untuk patuh kepada aturan waktu dan ketegasan dapat mengoptimalkan. Maka kedisiplinan sudah pasti sudah berjalan dengan baik tanpa harus teriak-teriak apalagi pukulan.

Untuk menanamkan kedisiplinan pada anak kuncinya adalah hindari sikap fleksibilitas dan kelonggaran. Saya sendiri mengalami ini. Saya ada kesepakatan dengan tentang kapan anak saya boleh pegang gadget. Saya sepakat dengan anak-anak bahwa mereka boleh pegang gadget saat hari ahad. Tapi suatu ketika si adik rewel dan minta gadget. Dasar emak gak tega an dikasihkan deh yang dimau anak. Alhasil mereka jadi harus kerja keras untuk mengembalikan peraturan sesuai kesepakatan.

5. Membuat Menu Kegiatan Harian

Mengapa menggunakan kata menu? Karena kegiatan harian anak dibuat seperti model penulisan menu masakan. Karena penulisan menu mudah difahami oleh anak. Pembuatan menu harian dibuat bersama antara orangtua dan anak. Tentang kegiatan yang bernilai pengetahuan atau kegiatan penyalur hobi anak. Namun dalam pelaksanaannya menu harian tak harus sesuai jadwal yang tertera. Anak bisa memilih menu kegiatan apa yang ingin ia tuntaskan dulu. Jika akan ada kegiatan di luar yang sifatnya mendadak anak bisa segera melahap habis menu kegiatan sebelum pergi. Tapi jika ia ingin menyisakan menu kegiatan sepulang dari kegiatan diluar juga tidak masalah. Kegiatan pelaksanaan menu kegiatan ini selain melatih kedisiplinan juga anak belajar me-manage waktu. 

Demikianlah beberapa tips belajar ala homeschooling yang bisa digunakan para orangtua untuk mendukung kelas online anak. Semoga anak ditengah musibah yang melanda negeri kita tak membuat semangat belajar anak.


Sumber :

https://www.google.com/amp/s/cantik.tempo.co/amp/1320670/libur-sekolah-efek-corona-ini-tips-belajar-di-rumah-ala-praktisi-homeschooling

https://www.google.com/amp/s/amp.kompas.com/tren/read/2020/03/16/120212965/sekolah-libur-karena-virus-corona-ini-tips-untuk-orangtua-temani-anak

29 comments

  1. Perlu kesabaran dan obat penenang...hahaha, kalau saya. Tapi obat penenangnya mudah kok, tinggal buka sosmed hehe.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Hmm.. kelihatannya merk obat kita sama deh mak.. wkwkk

      Hapus
  2. Kalau saya aturan mainnya dengan anak-anak palingan kita jangan saling mengganggu aja. Karena saya jg kerja dr rmah dan anak-anak belajar dr rmh. Kalau anak-anak perlu bantuan ya boleh aja colek bundanya. He

    BalasHapus
  3. Nice share mba 😊. Apalagi prinsip belajar itu kapan saja dan di mana saja serta dengan siapa saja. Cuma kalau saya masih membatasi dulu dari siapa anak-anak boleh belajar mba. Sebab, trio krucil saya masih membangun konsep benar dan salah. Maklum masih pra sekolah semua dan masih awal SD, Bun 😃

    BalasHapus
  4. Intinya ibu harus kreatif ya, dan menyiapkan waktu buat anak salah satunya dengan membuat jadwal harian.
    Itu yang sering jadi polemik, karena tidak semua ibu bisa melakukannya.
    Tapi sangat perlu dan penting dilakukan, agar anak bisa tumbuh dengan baik :)

    BalasHapus
  5. Semenjak pandemi corona dan anak-anak mengerjakan tugas sekolah secara online kemudian melaporkan ke grup, saya sendiri harus siap sedia membantu menyelesaikan soal-soal yang dibagikan.

    Melihat konsep homeschooling, sepertinya komitment antara orangtua dan anak harus kuat ya. Apalagi orangtua harus kreatif. Saya rasa homeschooling juga hanya bisa dilakukan ibu ibu yang dirumah dan berwawasan luas ya, juga punya kreatif dan punya komitment tinggi dan tentunya bisa mengarahkan anak dengan baik.

    BalasHapus
  6. Ini nih kadang masih terlihat ortu memerintah pada anaknya, bisanya nyuruh aja tanpa memberi contoh. Intinya kalau di rumah memang ortu harus lebih kreatif yaa

    BalasHapus
  7. Aku belum punya anak sih, tapi ada ponakan. Jadi tahu betapa susahnya ngajak anak belajar.

    Menurutku jadi ibu itu luar biasa, harus serba kreatif. Harus sabar dan punya mental yang kuat. Menjadi guru untuk anak sendiri juga nggak mudah, karena anak rata-rata lebih taat sama gurunya daripada sama mamanya :)

    BalasHapus
  8. Butuh kesabaran ya saat mendampingi anak-anak. Pastinya biar gk serius dalam proses belajar mengajar ala-ala di rumah sendiri, sebisanya diselingi hal-hal yang tak setius. Musalnyanya ada sesi game dan nyemilnya. Thx untuk sharingnya ya..

    BalasHapus
  9. Memang harus ada pendampingan Mbak dalam mengajarkan apalagi sekarang belajar di rumah karena anak selalu butuh bimbingan dan kalau belajar di rumah otomatis orang tua sebagai model, sarana, media agar anak bisa mengerjakan tugas-tugas yg di berikan guru

    Kebetulan sya juga berprofesi jadi pendidik :)

    BalasHapus
  10. Perlu kesadaran, sabar yang sesabar-sabarnya saat mendampingi anak belajar di rumah ya teh.

    BalasHapus
  11. Ngajar anak sendiri memang susah-susah gampang. Entah mengapa, banyak orang tua yang justru galak banget saat mengajari anak sendiri. Akibatnya, anak-anak jadi merindukan sosok gurunya di sekolah.

    BalasHapus
  12. Nah, iya, memang enggak mudah, ya, social distancing bagi anak yang biasanya main di luar. Menjadi guru di rumah pun tak semudah itu. Stok sabar kudu diperbanyak soalnya. Makasih tipsnya, sebagai reminder buat saya juga

    BalasHapus
  13. Betul Mba. Meski kita pengajar. Tapi giliran ngajar anak atau keponakan. Ampuuunnn...bikin stress juga ya ternyata. . hehehe

    BalasHapus
  14. Wah mbak bermanfaat banget artikelnya. Ternyata memang guru mengakui ya mengajar anak sendiri lebih sulit karena lebih manja. Saya ada keinginan agar anak homeschooling juga, jadi pas baca tulisan ini

    BalasHapus
  15. Beberapa kali baca curhatan ibu-ibu yang kesulitan mengerjakan tugas anaknya. Hei, yang harus nya mengerjakan kan si anak... Jadi ngapain si ibu uring-uringan sendiri karena tugas anak... Benernya memang ibu/orang tua jadi motivator, fasilitator, dan pematik ide... ibu cerdas jangan sampai "kejebak" dengan metode belajar daring ini...

    BalasHapus
  16. Saya sudah lama lho ngikutin kelasnya Mas Aar, tapi belum memutuskan untuk homeschooling juga karena belum sepakat sama bapaknya. Iya, homeschooling menurut saya harus sepaket. Semua kompak. Kalau enggak kasihan anaknya. Si kakak sebenarnya tertarik, tapi belum sanggup saya karena alasan tadi. Selama SFH ini sebenarnya sambil belajar HS juga. Siapa tahu habis ini tercerahkan, hehe.

    BalasHapus
  17. Ira Puspitasari dan Aar Sumardiono ini emang pakarnya Homeschooling ya, bagus nih Mbak tips HS dari pakarnya, terutama yg ortu jangan sekadar nyuruh2 tp juga terlibat yahh

    BalasHapus
  18. terima kasih mbak untuk tambahan ilmunya. Aku terapkan peraturan buat anak2ku school from home :)

    BalasHapus
  19. Sekolah di rumah begini, memang butuh komitmen ya mbk, baik kita sebagai ortu dan juga anak. Makasih tipsnyaaa mbak, kepakai banget nih sekarang di masa anak-anak school from home

    BalasHapus
  20. barusan banget dengerin kakak-kakak ipar aku yang curhat permasalahan anak-anaknya yg alami SFH dan katanya emaknya jadi auto sumbu pendek wkwk, mungkin ya karena tidak terbiasa dengan jam belajar yg seperti di sekolah tapi di lakukan d rumah, teknik HS ini pas banget deh

    BalasHapus
  21. Sekolah di rumah sama nggak emang beda sih. Nggak bisa disamakan. Kalau saya dengerin podcast tentang homeschooling itu, orang tua lebih banyak mengamati dan cari tahu anak tuh pinginnya apa.

    Ini juga yang sedang saya lakukan. Dulu, sebelum punya anak, saya kayak punya target-target sendiri. Umur segini dia diajarin ini, umur segitu diajarin itu.

    Tapi setelah launching, kalau ikutin kemauan sendiri kok ya stress sendiri. Karna nggak selalu bisa. Akhirnya, saya coba amatin aja anak saya. Wow, meski baru 5 bulan, dia sudah tahu lho mau apa. Ya saya ikutin aja itu. Lebih fun ternyata.

    BalasHapus
  22. Wah.. wah..pas ini temanya buat orangtua dan calonortu. Makasihnyabak sharingnya..

    BalasHapus
  23. Anak sekarang memang cerdas-cerdas. Karenanya sebagai orang tua nggak bisa hanya sekedar memerintah tanpa memberikan contoh, supaya apa yang kita inginkan juga bisa terlaksana dengan baik. Setuju deh.

    BalasHapus
  24. wah jadi inget ponakan saya yg 5 tahun sudah home schooling dari usia 3 dan punya komunitas belajar juga untuk anak2 home schooling di tangerang selatan.

    BalasHapus
  25. Karena anakku sudah besar, jadi saya tak terlalu repotlah ngatur belajarnya. Tapi sesekali ingatin saja, apa sudah kerja tugas dsb

    BalasHapus
  26. Kudu sabar ya menemani anak selama PJJ. Selain itu perlu sinergi orang tua, murid, dan guru supaya sama-sama lancar menjalankan peran masing-masing, bukan saling menuntut.

    BalasHapus