Kenali 7 Gejala Psikopat pada Anak



Beberapa hari yang lalu, kita dikejutkan oleh peristiwa pembunuhan yang pelaku dan korbannya masih anak dibawah umur . Seorang remaja 15 tahun  tega membunuh balita umur 5 tahun yang masih tetangganya karena terinspirasi film. Mirisnya lagi, pelaku tidak menunjukkan penyesalannya dan cenderung merasa puas setelah melakukan aksinya. Saya yakin peristiwa ini, membuat para orangtua sangat khawatir.  Timbul pertanyaan dibenak saya apa ya kira-kira mendorong remaja yang notabene berprestasi dan pendiam ini tega melakukan tindakan sekejam itu? Banyak yang menilai remaja ini memilki gejala psikopat. Ngeri ya! Semoga Allah senantiasa melindungi anak-anak kita.

Apasih Psikopat itu?

Menurut Wikipedia, psikopat adalah penyakit kejiwaan yang bersifat egosentris dan anti social. Penderita memilki kepribadian yang yang sangat egois dan cenderung memiliki kepuasan setelah melakukan perbuatan yang merugikan orang terdekat atau masyarakat. Seperti membunuh, memperkosa dan korupsi.

Kalau kita bicara tentang penyakit jiwa, umumnya kita pasti beranggapan penyakit gangguan mental seperti halnya orang gila. Tapi psikopat sangat jauh berbeda dengan orang gangguan mental pada umumnya. Mereka memilki kesadaran penuh dalam melakukan aksinya.  Gejalanya pun susah dikenali, kerena mereka pintar berkamuflase.

Tapi kabar baiknya, gejala psikopat ternyata bisa kita deteksi sejak dini lho.. Bahkan sejak anak masih berusia 3 tahun. Seorang psikiater amerika JM macdonald menjabarkan tanda-tanda anak memilki gejala psikopat dari analisanya terhadap sekitar 100 tindak kejahatan. Yuk simak dan kenali beberapa gejala berikut!

Anak Sering Berlaku Kejam Terhadap Hewan

Indikasi psikopat anak yang paling jelas terlihat adalah perlakuan anak terhadap hewan. Jika anak terlihat senang mengganggu hewan sekitar bahkan berlaku kejam padanya. Contohnya  saja anak suka memperlakukan hewan sebagai hewan aduan, suka menyakiti hewan dengan menarik-narik ekornya, atau bahkan suka membunuhnya. Mungkin ini  masih normal selagi anak masih bisa dinasehati. Tapi jika perlakuan kasar anak terhadap hewan  seolah menjadi  permainan menarik bagi anak. Tanpa ada rasa kasihan dan rasa bersalah, kita sebagai orangtua wajib hati-hati.

Anak Suka Mengekpresikan Kemarahannya dengan Aksi Bakar-Bakaran

Jika anda mendapati seorang anak yang hobinya membakar barang-barang untuk menunjukkan kemarahan dan pembangkangan atas suatu aturan bisa jadi anak itu mengalami piromania. Piromania merupakan jenis gangguan mental yang ditandai dengan dorongan kuat untuk menyulut api untuk mengekspresikan rasa marah dan kesalnya terhadap sesuatu. Biasanya penderita akan merasa sangat puas dan lega setelah melakukan aksinya tersebut. Kepuasan setelah melakukan tindakan yang merugikan ini jika dibiarkan akan berakibat empatinya hilang dan bisa mengakibatkan seseorang atau anak memiliki indikasi psikopat

Seorang Anak yang Masih Suka Ngompol Bahkan Saat Ia Sudah Balita Lagi

Wajarnya seorang anak diatas lima tahun sudah bisa mengontrol kondisi tubuhnya. Namun kenyataan masih banyak anak-anak yang masih susah mengontrol urinnya sehingga ngompol saat tidur. Anak yang memiliki gangguan ini biasanya dikenal memilki gangguan enuresis. Tentu bukan jaminan anak mengalami gangguan enuresis pasti menjadi psikopat di masa depannya. Namun kondisi memalukan inilah yang membuatnya melakukan tidakan-tindakan pelampiasan untuk menutupi rasa malunya. Ditambah jika dia mendapati lingkungan yang kurang bersahabat dengannya. Orangtua memarahi atau teman-teman dan saudara yang mengejeknya. Suatu hal yang wajar saja terjadi disekitar kita mungkin. Karena kadang kita lupa jika anak juga manusia yang memiliki ras amalu dan marah. Inilah yang kemungkinan membuat anak-anak melakukan tindakan kekerasan dan kerusakan untuk mengekspresikan kemarahannya.

Anak Gemar Berbohong Tanpa Penyesalan

Beberapa orangtua kadang cenderung  lebih sayang kepada benda ketimbang kepada anak sendiri. Mereka sering menghukum dan memarahi anak saat mereka membuat merusakkan benda-benda di rumah. Bahkan saat mereka melakukannya tidak sengaja karena proses belajar. Untuk menutupi kesalahan dan takut dihukum, seorang anak bisa saja berbohong. Sebagai bentuk perlindungan diri. Mungkin ini salah.. Tapi tindakan orangtua yang memberi peluang mereka untuk berbohong atau gemar berbohong.

Tidak serta merta anak pembohong terindikasi psikopat ya.. Selagi perilaku ini tidak terus berlanjut dan masih bisa dibenahi. Namun jika intensitas perilaku menyimpang ini sudah menjadi keseringan dan mung kin saja sudah menjadi hobi bagi anak tanpa ada sedikit pun penyesalan.  Bahkan ia terlihat percaya diri saat melakukannya. Sebagai orangtua kita wajib khawatir dan tidak ada salahnya untuk berkonsultasi pada yang ahli.

Melanggar Peraturan

Setiap anak pasti pernah mengalami kejadian dimana ia harus memilih antara berbohong atau jujur.  Bisa jadi saat tidak sengaja memecahkan pot bunga kesayangan ibu atau terlambat karena bangun kesiangan. Situasi macam ini yang memaksa anak untuk kadang berbohong karena takut menerima hukuman.

Namun anak dengan gejala psikopat memiliki pandangan sangat berbeda terhadap pelanggaran. Pelangaran  terhadap peraturan menurut mereka adalah suatu permainan seru yang menguji adrenalin mereka. Bahkan mereka tidak ada rasa bersalah sedikitpun  ketika  merugikan oranglain. Tindakan pelanggaran seperti mencuri buat mereka adalah kesenangan. Terlebih jika barang yang mereka curi adalah barang yang sangat penting bagi temannya.

Suka Membully

Tidak semua perilaku usil dan nakal seorang anak menunjukkan gejala psikopat. Semua tergantung motif anak melakukakannya. Anak yang suka mengganggu teman dengan membully termasuk gejala spikopat juga. Kadang seorang anak melakukan tidak bulliying Cuma karena ingin diperhatikan, merasa kuat atau meniru perlakuan kasar orang sekitar yang lebih tua. Pelaku bulliying ini masih mudah ditangani. Namun penanganan tidak membuat jera serta tidak ada penyesalan sedikitpun. Atau malah dia terlihat menikmati saat mempermalukan temannya dengan aksi bullyingnya, ini yang harus kita waspadai.

Tidak Memiliki Kepekaan

Menurut Heather Irvin, seorang psikolog senior di R.E.A.D. Klinik, masa balita adalah masa paling menentukan masa depan pikologis seorang anak. Terlebih di tahun pertama kehidupan mereka. Tahun pertama kehidupan anak adalah yang paling penting dalam menentukan masa depan kesehatan psikologis mereka. Sentuhan, perawatan, kata-kata penuh cinta sangat penting bagi kejiwaan anak kemudian hari.

Namun jika di awal kehidupannya anak sudah tidak menemukan kasih sayang yang seharusnya, Misalnya saja: dia sering dibiarkan terlalu lama menangis;  tidak ada yang memberi makan saat ia lapar, kurang mendapatkan perawatan dan kasih sayang. Maka otak mereka akan memberikan informasi dan pemahaman bahwa perasaan itu tidaklah penting. Sehingga kepekaannya terhadap lingkungan tidak ada bahkan sejak ia baru lahir.

Jadi penting bagi orangtua untuk tidak hanya mencukupi kebutuhan dan kesehatan fisik anak semata. Karena ada sesuatu yang jauh lebih penting dari itu semua, yaitu kasih saying dan cinta kasih untuk mereka. Selalu tanamkan ajaran-ajaran agama, empati terhadap lingkungan serta nilai-nilai moral. Untuk mencukupi kebutuhan psikologisnya agar sehat dan menatap masa depannya yang cerah.
Namun jika anda menemukan tanda-tanda mengkhawatirkan seperti yang telah di jelas  diatas. Maka tidak ada salahnya untuk berkonsultasi dengan spesialis untuk segera bisa ditindak lanjuti.

Sumber pustaka :
Https://www.brilio.net/

2 comments