Anak Kesulitan Membaca? 4 Cara Berikut Layak Anda Coba!

 


Setiap anak lahir memiliki kelebihan dan kekurangan masing-masing. Ada yang berbakat dalam seni tapi kurang minat dalam belajar. Ada anak yang pintar di kelas tapi ia lemah di bidang olahraga. Begitulah anak, dengan kekurangan dan kelebihannya. Kita sebagai orangtua, hanya bisa memberikan motivasi dan pendampingan kepada mereka.

Lalu saat kita mulai menyadari, anak-anak kita harus berjuang keras membaca sebuah teks sederhana. Juga kita kadang dibuat tak sabar, saat harus menunggu si kecil menyelesaikan tugas menulis dari guru. Disitulah kekhawatiran kita mulai mengganggu. 

Membaca dan menulis memanglah faktor penting dalam kegiatan belajar mengajar. Beberapa anak didik saya ada yang memiliki kasus seperti ini. Sebagai seorang guru, saya cukup dibuat kerepotan. Jika saya membantu yang masih sulit membaca, apa kabar dengan anak didik saya yang lain? Akhirnya saya memberikan tugas berbeda untuk beberapa anak yang masih kesulitan dalam baca-tulis. Dan jika ada waktu jeda saya luangkan untuk melatih kemampuan membacanya.

Tahukah Bapak-Ibu! Anak kesulitan membaca, akan mengalami banyak kesulitan di sekolahnya. Terutama untuk memahami semua mata pelajaran di sekolah karena hampir semua mata pelajaran berbentuk tulisan. Belum lagi, saat ia tidak bisa menyelesaikan membaca dan menulis secepat teman-temannya. Bisa jadi anak memiliki kekecewaan pada diri sendiri, frustasi, minder kemudian menarik diri dari lingkungan atau bahkan melampiaskannya dengan perilaku yang destruktif. 

Anak yang kesulitan membaca dan menulis memanglah perlu perhatian khusus. Seorang guru tidak bisa hanya fokus ke satu dua anak saja. Maka dari itu peran orangtua sangatlah penting untuk memotivasi anak untuk mengejar ketertinggalan dengan lebih giat belajar membaca dan menulis. Semoga beberapa langkah penanganan berikut bisa membantu!

1. Jangan Pernah Menghukum Anak atas Ketidak-mampuannya


Anak adalah buah hati kita. Jangan sampai karena kita malu atas sedikit kekurangan yang ada pada diri anak, kita sampai menyakitinya. Ketidak mampuannya terhadap sesuatu, saya yakin sudah menjadi beban bagi anak. Kita sebagai orangtua dan guru hanya perlu memberikan motivasi dan support untuk dia lebih bersungguh-sungguh dalam belajar sehingga bisa mengejar ketertinggalan. 

Hukuman seberat apapun tidak akan membuat mereka laju, tapi mungkin malah membuatnya terhenti. Apalagi sampai kita menghukum dan memarahi dia saat ia tidak bisa menyelesaikan tugasnya padahal kita tahu dia tidak mengerjakan atau bahkan ribut di kelas bukan karena dia tidak mampu bukan karena tidak mau. Memarahi dan menghukum di depan teman-teman dan saudara-saudaranya hanya akan melukainya, tapi tidak mengobati.

2. Jangan Berhenti Mencintai dan Memotivasinya


Saat anak mendapatkan gunjingan dari teman-teman dan orang sekitar atas sedikit kekurangannya. Maka jangan menjadi orangtua dan guru yang kejam. Yang malah menunjukkan kekecewaan kita dengan ikut merasa malu dan memarahinya. Peluk anak erat, karena disitu anak butuh support bukan cacian. Jangan terlalu banyak berharap tapi support anak untuk bisa melampui keterbatasannya dengan tidak lelah belajar dan mencoba.

3. Mengajar Hal Mendasar dengan Sabar


Mulailah kembali mengajaknya belajar membaca tingkat dasar. Walau mungkin dalam keseharian di sekolah anak sudah duduk di kelas sekolah dasar dengan beragam buku mata pelajaran dengan buku yang penuh dengan tulisan. 

Ajar dia belajar kembali dasar-dasar membaca dengan metode yang menarik. Dengan tebak kata atau menggunakan kertas warna-warni. Kemudian mengajaknya mengingat huruf demi huruf melalui indra peraba, penglihatan dan indra pendengarnya. Bagaimana bentuk "N" dan cara bacanya dengan metode yang menarik. Setelah dia benar-benar hafal dengan huruf-huruf anda bisa mulai mengajarkan mereka mengeja kata kemudian kalimat. 

Sabar dalam membimbing anak dengan menanyakan bagian yang dianggap sulit oleh anak.  Apakah pada bunyi (fonem), arti (morfem), huruf atau tanda baca dan lainnya. Membuat istilah unik yang mudah diingat oleh anak, misalnya adalah mengenali huruf ‘b’ atau huruf yang buncit perutnya. Jangan pernah memaksakan anak untuk bisa belajar dengan cepat karena hal itu justru akan memperburuk keadaan.  Cobalah untuk menciptakan suasana belajar yang menyenangkan dan ikuti sesuai dengan kemampuan anak. Ajak anak untuk latihan terus dalam hal menyalin dan mengeja, baik dengan tulisan maupun didikte. Lakukan tes sederhana untuk mengetahui perkembangannya.

Semua orangtua pasti tahu bagaimana mengatasi anaknya. Bagaimana cara mensupport dan memberi motivasi agar mereka tidak lelah belajar. Jangan lupa beri pujian atas setiap keberhasilannya. Walau mungkin masih sangat jauh dari harapan.

4. Cari Bantuan


Jika segala macam upaya telah kita berikan tapi anak belum menunjukkan kemajuan yang signifikan. Itu berarti saatnya kita perlu bantuan. Membaca dan menulis adalah faktor penting bagi mutu keberhasilan anak dalam pendidikannya. Oleh karena itu, jika usaha kita belum menampakkan hasil, sedang pelajaran di sekolahnya tidak semakin mudah. maka, itu saatnya kita perlu tenaga profesional. Salah satunya dengan mencari guru les membaca untuk anak kita. Jika memungkinkan adalah guru privat. Selain untuk menjaga mood anak dari olokan teman, anak juga akan lebih fokus belajar.

Itulah beberapa cara yang mungkin bisa membantu. Mungkin saat mengetahui anak masih kesulitan membaca. Padahal mereka sudah di sekolah dasar mungkin membuat kita sangat khawatir. Banyak dari kita belum tahu bahwa sebenarnya kesulitan membaca merupakan kondisi yang sangat umum dan bukan suatu yang harus terlalu dikhawatirkan. Perlu Bapak-Ibu ketahui bahwa banyak pula lho tokoh dunia  berpengaruh memiliki kondisi seperti ini. Misalnya saja Picasso, Steven Spielberg, hingga Bill Gates. Mereka mampu melampaui keterbatasannya dan membuktikan bahwa mereka juga bisa sukses. Kalau mereka saja mampu, anak-anak kita pasti bisa!!

8 comments

  1. Membantunya belajar agar bisa membaca dengan sabar memang itu yang utamanya ya Bu guru, kalo perlu dengan sedikit memotivasi nya, misalnya kalo bisa baca ini nanti akan dibelikan jajan.

    Kalo tidak bisa juga, baru minta bantuan orang lain. Yang penting jangan menghukum nya ya Bu.

    Salam kenal Bu guru.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Iya pak siap. Sogok an jajannya itu lho.. andalan banget.

      Salam kenal juga pak

      Hapus
  2. Aku sebenrnya jadi malu Ama diriku sendiri, pas baca cara2 mengajari anak ini mba. Krn jujurnya aku bukan tipe sabar :(. Aku ngerti masalah anakku itu di hitung2an sbnrnya. Kalo membaca dia udh paham. Sementara selama SFH ini, tiap kali udh pelajaran berhitung, disitulah kesabaran diuji. Untung papinya juga Wfh. Jd kdg2, kalo aku udh mulai meninggikan suara, si papi turun tangan Krn dia memang jauh lebih sabar.

    Yg bermasalah sbnrnya aku sih, Krn ga sabaran. Padahal ngajarin anak ya memang hrs sabar :(. Tapi susah beneer nahan supaya ga marah2 itu loh mba. Sbnrnya si Kaka sih ada guru privatnya. Tp gara2 pandemi memang aku stop yg datang ke rumah dan si Kaka juga blm aku izinin kluar rumah :(. Aku bakal lanjutin les lagi kalo memang situasi udah aman.

    Rasanya aku memang perlu latihan untuk lebih sabar waktu ngajarin anak. Itu yg blm berhasil :(

    BalasHapus
    Balasan
    1. Kenapa baca komentar mbak Fanny jadi ingat tetangga sebelah yang kalo ngajarin anak juga ngga sabar ya.

      Tapi memang mengajar anak itu tidak mudah dan butuh kesabaran ekstra. Kalo sabarnya sudah habis keluar tanduknya dan nadanya naik beberapa oktaf.😂

      Hapus
    2. Kalau dibilang sabar, saya pun banyak gak sabarnya mb🤭

      Saya bicara tentang anak saya sendiri ya.

      Anak pertama saya, tipe anak malas belajar. Dan mau tidak mau hal itu mempengaruhi adeknya.

      Beberapa kejadian saat belajar di rumah membuat saya mengerti. Jika tak perlu menekan anak tentang mempelajari ini itu.

      Saat pagi, saat membangunkan anak. Saya akan menanyakan padanya, kapan ia siap belajar. Lalu saya akan mulai mengajaknya berfikir tentang jadwal saya hari ini juga kegiatan hariannya. Disitu dia akan punya kesepakatan sendiri kapan hari itu dia siap belajar. Hal itu ternyata ampuh untuk mengajarkan anak tanggung jawab. Saat waktu yang dia katakan mau belajar, ternyata dia tak lagi harus saya omeli dulu untuk siap belajar.

      Selanjutnya, saat belajar. Saya tak lagi banyak memberi tuntutan pada anak. Saya cukup diam dan mendampingi, serta mengingatkan saat dia mulai melirik mainannya. Ternyata saat proses belajar dia malah banyak tanya tentang hal-hal yang belum dia mengerti tanpa dan dia mau memperhatikan dengan seksama karena merasa butuh. Saat dia belum juga faham, saya mengajaknya beralih ke tugas lain dulu. Nanti saat dia sudah selesai dengan tugas-tugasnya saya mulai mengajaknya mempelajari hal yang ia mengerti tadi. Ini berlaku untuk dua anak saya.

      Intinya, saya tidak lagi mengejar tapi biarkan dia mengejar saya karena butuh belajar. Membiarkan anak mengeksplor kemampuannya dan saya cukup mendampingi dan mengarahkan.

      Mungkin masalah kita belum tentu sama mb fanny tapi semoga bisa membantu🙏

      Hapus
    3. Maaf telat bls mb fanny.

      Terimakasih mas agus atas responnya.

      Memang saat belajar itu, saat emak-emak diuji. Kita boleh keluar tanduknya, tapi di depan anak harus pintar-pintar jaga emosi. Jangan sampai suara naik, anak tutup buku lari main.

      Tak patut🤭

      Hapus