Mampukah 10 Elemen ( Nilai ) Proyek Pelajar Rahmatan Lil Al-Amin ( P2RA ) Menjawab Krisis Moral Abad 21?


Pak-Bu.. kita sekarang sedang berada di zaman dimana semua pekerjaan bisa kita selesaikan bahkan digantikan oleh teknologi. Di abad 21 ini memang merupakan abad peralihan dari industri ke pengetahuan teknologi. Apapun bisa diselesaikan melalui AL. Dari pekerjaan ringan hingga pekerjaan yang membutuhkan tenaga fisik manusia, semua bisa diselesaikan dengan AL. Apalagi sekarang artificial intelligence (AL) bisa akses secara mudah oleh anak didik kita. Semua hal terkait pengetahuan bisa diakses dengan mudah. Hal ini mengakibatkan peran guru juga berubah dan mengalami pergeseran peran. Dari yang sebelumnya penyaji pengetahuan, menjadi penuntun dan pengarahan anak didik dalam mengakses pengetahuan. Menuntun dan mengarahkan anak didik untuk mengakses pengetahuan dengan teknologi disertai pedoman iman yang kuat dan akhlak yang baik.

Adanya P5 di sekolah umum dan P2RA di madrasah merupakan salah satu wadah menyertai anak didik untuk mengakses pengetahuan dan mengamalkannya. Apa itu P2RA ? Dalam IKM (Implementasi Kurikulum Merdeka) khususnya di Madrasah, kita dikenalkan Profil Pelajar Rahmatan Lilalamin atau yang biasa disebut dengan P2RA. P2RA ini adalah bentuk kepedulian pendidikan madrasah pada akhlak anak didik yang kian hari kian mengkhawatirkan.

Jadi anak didik di lingkungan madrasah, tidak hanya dikenalkan dengan P5 saja ataupun P2RA saja namun dua-duanya. Dua kegiatan kokurikuler berbasis proyek ini dirancang untuk memperkuat upaya pencapaian karakter dan kompetensi anak didik untuk memecahkan masalah dan kemampuan hidup mandirinya dalam menjalankan kehidupan nya di masa depan dengan disertai dengan kuatnya iman dan akhlak yang mulia. Gabungan proyek pelajar Pancasila dan proyek pelajar rahmatan Lil Al-Amin ini biasa kita kenal di kalangan madrasah sebagai P5-P2RA. Proyek P5-P2RA ini merupakan salah satu program kurikulum kita yang baru yaitu kurikulum merdeka yang memberikan pengalaman langsung sesuai dengan karakteristik lingkungan madrasah. Tujuannya adalah menjadikan anak didik memiliki kompetensi dan berperilaku yang mencerminkan nilai-nilai Pancasila dan berkarakter islami ( untuk anak didik kami di madrasah).

Kementerian Agama (Kemenag) telah menetapkan tema-tema utama untuk dirumuskan menjadi tema turunan oleh madrasah sesuai dengan kebutuhan wilayah dan karakteristik anak didik didik. Tema-tema utama proyek penguatan Profil Pelajar Rahmatan lil Alamin yang dapat dipilih dari nilai-nilai moderasi beragama oleh madrasah (berdasarkan Panduan Pengembangan Projek Penguatan Profil Pelajar Pancasila Dan Pelajar Rahmatan Lil Alami) ada 10 nilai, sebagai berikut:

1. Berkeadaban (Ta’addub)

Nilai keberadaban adalah nilai yang sangat menjunjung karakter baik, integritas, dan dan yang utama akhlak mulia. Nilai-nilai yang wajib ada di semua pribadi umat muslim. Yang kemudian dapat mencirikan diri sebagai identitas kita sebagai umat Islam yaitu khoiru umma. Olehkarena itu, penting ta'addub atau berkeadaban untuk ditanam pada diri anak-anak madrasah.

2. Keteladanan (Qudwah)

Ki hajar Dewantoro pernah menyampaikan, "Ing ngarsa sung tulada, ing madya mangun karsa, tut wuri handayani" yang artinya manusia yang unggul adalah manusia jika depan, memberi teladan. Jika di tengah, memberikan ide dan motivasi. Di belakang, harus memberikan dorongan. Semboyan Tut Wuri Handayani ini kini menjadi slogan dari Kementerian Pendidikan Nasional Indonesia yang layak untuk dijadikan pedoman setiap warga Indonesia dalam bersikap di masyarakat. Begitupun semua keluarga madrasah. Bagaimana kita para guru dapat memberikan teladan baik kepada anak-anak baik itu dengan memberi contoh langsung ataupun dengan menghadirkan atau mengenalkan tokoh-tokoh panutan Islam agar memberikan inspirasi baik dalam bersikap dan bercita-cita. Dan moment P5-P2RA adalah moment baik untuk kita bisa mengenalkan tokoh-tokoh tersebut

3. Kewarganegaraan dan Kebangsaan (Muwaṭanah)

Muwaṭanah adalah sikap menerima keberadaan negara (nasionalisme), mematuhi hukum negara, melestarikan budaya Indonesia. Sebagai guru madrasah, kita harus menanamkan sikap nasionalisme, memahamkan tentang penting nya mematuhi hukum, dan juga harus tetap memotivasi anak-anak untuk melestarikan budaya Indonesia. Ada banyak contoh proyek P5-P2RA yang bisa kita laksanakan untuk memasukkan nilai-nilai tersebut. Diantaranya; dengan mengenalkan makanan tradisional, mengenalkan tentang tata tertib berkendara, menceritakan perjuangan tokoh-tokoh pahlawan Islam Indonesia dll.

4. Mengambil Jalan Tengah (Tawassuṭ)

Menurut pemahaman Islam, istilah “jalan tengah” atau “tawassut” mengacu pada cara untuk hidup yang seimbang dan moderat. Konsep ini tercermin dalam berbagai bidang kehidupan, termasuk agama, moralitas, masyarakat dan ekonomi. Dalam Islam, memilih jalan tengah berarti menghindari ekstremisme dan mencari keseimbangan antara nilai dan prinsip. Prinsip tawassuṭ ini sangat penting untuk kita kenalkan kepada anak-anak, agar senantiasa seimbang menyikapi berbagai bidang permasalahan dalah kehidupan nanti.agar tidak menjadi pribadi yang terlalu fanatik dan ekstrim terhadap sesuatu hal. Ada banyak contoh Proyek P5-P2RA yang bisa kita hadirkan kepada anak didik untuk menanamkan nilai tawassuṭ tersebut; diantaranya dengan menghadirkan tokoh agama tentang bahaya fanatisme dan ekstrimisme, memutarkan video tentang akibat fanatisme suatu golongan dan akibatnya bagi bangsa dll.

5. Berimbang (Tawāzun)

Keberimbangan dalam semua semua aspek kehidupan, baik kebutuhan duniawi maupun ukhrawi. Dalam hal ini, kita diharapkan membuat proyek P2RA yang menghadirkan prinsip-prinsip tersebut. Proyek bisa jadi berupa pembiasaan terkait rutinitas sehari-hari, anak-anak dianjurkan membuat jadwal berimbang tentang kegiatan ibadah dan kegiatan hariannya dan dilaksanakan. Ataupun bisa juga berupa menghadirkan tokoh kesehatan atau video tentang pola makan berimbang yang halal dan baik ataupun manfaat berpuasa dan manfaat kesehatan yang didapat dan ide proyek lain yang menghadirkan nilai-nilai tawāzun atau keberimbangan dalam semua aspek kehidupan kita sebagai umat muslim.

6. Nilai Kesetaraan (Musyawah)

Prinsip kesetaraan mengacu pada perlakuan yang adil, tanpa membeda-bedakan terhadap individu maupun kelompok tanpa membedakan  keyakinan, tradisi, atau asal usul mereka. Sebagai contoh sikap musyawah dalam Islam adalah Islam datang meningkatkan derajat wanita. Dari yang dianggap sebagai harta dan dapat diperjualbelikan menjadi sangat mulia. Kesetaraan (musyawah) juga seasik kita makan bersama dengan keluarga atau teman dengan menu beragam namun tetap penuh keakraban. Sikap musyawah dalam pembelajaran bisa dimasukkan dalam beragam kegiatan di semua mata pelajaran atau mungkin bisa diagendakan di waktu khusus saat P5-P2RA tentang penanaman karakter tersebut dengan beragam kegiatan. Diantaranya
- Penyampaian materi musyawah baik melalui video atau narasumber terkait
- atau dengan mengadakan beragam lomba yang menguatkan karakter musyawah pada murid. Seperti; lomba baju adat yang diikuti oleh semua murid, lomba menulis cerita bertema kesetaraan (ABK disekitarku, Aku menyayangi nenekku dll)

7.    Musyawarah (Syura)

Syura adalah suatu aktivitas ataupun kegiatan yang dilakukan oleh lebih dari dua orang untuk membicarakan suatu masalah. Syura (musyawarah) adalah prinsip dasar Islam dalam menyelesaikan sebuah masalah. Dan seharusnya sebagai pendidik, prinsip dasar ini selayaknya ditanamkan pada diri murid-murid kita. Sangat mudah mengaplikasikan konsep musyawarah dalam kegiatan pembelajaran. Bisa secara langsung ketika kita menyampaikan materi dengan langsung mengajak murid untuk turut serta menyelesaikan masalah yang dibahas di materi pembelajaran. Atau bisa dengan mengadakan kerja kelompok berupa diskusi. Atau bisa juga dibuatkan waktu khusus pada P5-P2RA dalam penanaman pentingnya musyawarah. 

8.Nilai Toleransi (Tasamuh)

Dalam bahasa arab arti tasamuh adalah sama-sama berperilaku baik, lemah lembut dan saling memaafkan. Dalam pengertian istilah umum, tasamuh adalah sikap akhlak terpuji dalam pergaulan, di mana terdapat rasa saling menghargai antara sesama manusia dalam batas-batas yang digariskan oleh ajaran Islam. Tasamuh (toleransi) juga bisa berarti sikap menghargai pendirian seseorang mulai dari pendapat, pandangan, kepercayaan, kebiasaan, dan kelakuan. Saling toleransi baik itu dalam perbedaan yang ada dalam kehidupan sehari-hari maupun toleransi dalam perbedaan pendapat dalam keagamaan. Sampai-sampai kepada orang-orang di luar agama Islam pun kita harus saling toleransi dan menghargai. Dan sikap toleransi inilah yang harus kita tanamkan juga pada diri murid baik itu dalam kegiatan pembelajaran atau waktu khusus seperti pada pelaksanaan P5-P2RA dengan beragam kegiatan. 

9. Dinamis dan inovatif (Tathawwur wa Ibtikâr)

Tathawwur wa ibtikâr, yaitu sikap selalu terbuka untuk melakukan perubahan-perubahan sesuai dengan perkembangan zaman serta menciptakan hal baru untuk kemaslahatan dan kemajuan umat manusia. Nilai Tathawwur wa ibtikâr ini juga yang harus kita tanamkan pada diri murid-murid kita untuk kuat dalam iman namun juga mampu beradaptasi dengan zaman dengan terus berinovasi dengan berfikir kreatif terhadap permasalahan dan peluang untuk meningkatkan serta memperbaiki sesuatu.

Demikian sedikit pemahaman saya tentang Profil Pelajar Rahmatan lil Alamin. Sebuah kegiatan sebagai salah satu cara untuk mencapai keberhasilan pelaksanaan Kurikulum Merdeka di madrasah. Sudah selayaknya sebagai garda terdepan dalam mengimplementasikan kurikulum merdeka, kita sebagai seorang guru  tidak boleh terjebak menjadikan murid-muridnya sebagai penampung ilmu pengetahuan belaka. Guru harus fokus kepada pembentukan karakter anak-anak kita, membekali kompetensi dan keterampilan hidupnya dengan cara yang lebih kreatif sesuai kebutuhan pada masanya. Oleh karena itu, guru harus senantiasa meningkatkan kapasitas diri. Dengan demikian diharapkan para guru secara bergotong royong, dengan semangat berbagi, perlu bergabung bersama komunitas-komunitas pendidikan untuk mengasah kompetensi dan memperluas wawasan terkini demi memberi layanan terbaik kepada kemaslahatan para murid. 

 Wallahualam bishawab!

0 comments