Agar Bahagia Minim Konflik, 4 Hal Ini Perlu Diterapkan oleh Pasangan


Saat masih remaja, saya membayangkan jika pernikahan itu adalah sesuatu yang indah. Di mana kita bisa berbagi rasa dengan pasangan setiap hari bahkan setiap jam. Manis banget kelihatannya! Namun sangkaan saya terhadap pernikahan ternyata tak seindah bayangan. Ada manisnya sih, tapi pahitnya juga gak bisa dihitung jari. Ternyata pernikahan tidak hanya persatuan dua jiwa, tapi lebih tepatnya persatuan dua keluarga. Kita yang dulunya sudah nyaman dengan keluarga kita sebelumnya. Kalau sudah menikah, kita harus menyesuaikan lagi dengan keluarga baru dari suami yang pastinya perlu waktu untuk saling menyesuaikan. Walaupun demikian, saya bersyukur 14 tahun pernikahan saya dan suami telah kami lampaui dengan bahagia. Ada juga sedikit bumbu-bumbu konflik yang alhamdulillah cuma singgah sebentar untuk sekedar mempermanis hubungan pernikahan kami. Kalau Bunda?

Siapa yang tak mendambakan keluarga yang senantiasa harmonis dan minim konflik. Saya atau pun anda pasti mengharapkan hal yang sama. Tapi tahukah Bun? Bahwa selayaknya sayur, konflik dalam pernikahan pun bisa menjadi bumbu penyedap yang menjadi bumbu manis dalam hubungan pernikahan. Sekali-kali ribut-ribut manja dengan pasangan bisa membuat perjalanan cinta dalam pernikahan menjadi tidak monoton. Ada yang setuju dengan pendapat saya? Karena Kadang, setelah masalah bisa mempererat hubungan. Bisa karena rindu karena konflik membuat kita berjarak atau bisa jadi konflik membuat kita jauh lebih mengenal satu sama lain. 



Diane Gehart, Profesosor of Marriage and Family Therapy di California State University, mengatakan bahwa ketika seseorang tak lagi berminat untuk berargumen dengan pasangan, berarti orang tersebut tak lagi berminat memiliki komunikasi dengan pasangannya. “Pasangan yang tidak pernah bertengkar tak lagi memiliki atensi emosional satu sama lain,” jelas Gehart. Gehart menjelaskan. Tapi tak berarti kita harus mengada-ada agar ada konflik dengan pasangan ya… Namun sikap kita yang seolah enggan menyelesaikan masalah saat timbul masalah dan memilih diam bisa jadi hal ini bisa menjadi bom waktu yang bisa saja meledak kapan saja. Jika nanti konflik itu datang kita harus bijak menanggapinya. Muhammad Iqbal ph.d dalam bukunya Psikologi Pernikahan mengatakan bahwa dalam pernikahan ada beberapa jenis konflik yang harus kita waspadai. Diantaranya; 

Konflik suami-istri. Tokoh utama dalam pernikahan adalah suami dan istri. Kita adalah yang sebenarnya pengendali cerita. Mampukah kita bertahan atau harus terhenti di tengah jalan. Untuk itu perlu adanya komunikasi yang baik dan pengertian satu sama lain agar pernikahan dapat berjalan. Karena konflik suami-istri terjadi akibat adaptasi dan komunikasi yang rendah (Muhammad iqbal ph.d : 20018) 

Konflik antar anak. Biasanya terjadi karena adanya persaingan antar anak untuk mendapatkan cinta kasih orang tua. Kompetisi ini diwarnai oleh rasa iri, cemburu, dan persaingan. Bersaing untuk mendapatkan sesuatu, seperti perhatian ibu, mainan baru, dan lain-lain. Bersaing bisa pula untuk membuktikan sesuatu, seperti menjadi yang paling berprestasi, paling disayang orang tua, paling banyak teman, dan lain-lain. Kompetisi antar saudara ini sangatlah wajar terjadi namun jika salah penanganan dari orang tua maka akan berdampak pada keharmonisan dalam keluarga. Oleh karena itu, kita sebagai orang tua harus bisa meminimalisir persaingan anak dengan bijak diantaranya dengan memberikan kasih sayang yang proporsional, mendengarkan dan mengakui perasaan tiap anak dll. 

Konflik orang tua dan anak. Konflik seperti ini wajar saja terjadi, usia hingga perbedaan visi sering mendasari terjadi adanya konflik. Maka kita sebagai orang tua selayaknya menyadari hal itu sebagai hal yang lumrah. Lumrah untuk diselesaikan bukan untuk didiamkan. Tak perlu berusaha jadi pemenang, cukup fokus pada permasalahan. Menasehatinya lembut dan mencoba mengerti jika hasil akhir tak selalu sama seperti harapan kita orangtuanya. 

Konflik mertua dan menantu. Walaupun memang ada hubungan mertua dan menantu yang harmonis, namun tak bisa dipungkiri bahwa kasus mertua dan menantu yang berkonflik jumlahnya lebih tinggi. Terlebih bila menantu dan mertua tinggal dalam satu rumah, maka risiko konflik yang mungkin terjadi akan semakin besar. Bukan rahasia umum juga bila menantu perempuan dengan mertua perempuanlah yang paling sering berkonflik. Hal ini dikarenakan jiwa kompetisi antar wanita lebih tinggi sehingga secara otomatis perselisihan dan konflik pun akan turut menyertai. 

Konflik antar besan. Perbedaan yang terjadi dalam keluarga kerap menjadi penyebab pertikaian, apalagi ketika hubungan keluarga dilandasi atas pernikahan anak. Karena merasa hubungan yang terjadi hanya atas ikatan pernikahan anak, tidak jarang hubungan antar besan menjadi tidak akrab dan bahkan bermusuhan. Harmonisasi antar besan yang bersatu dalam ikatan pernikahan memang tidak mudah. Tetapi patut diperjuangkan demi hubungan keluarga yang baik dan kelanggengan hubungan pernikahan anak-anaknya. 

 
 
Konflik antar ipar. Ada beragam konflik yang akan kita temui saat mengarungi bahtera pernikahan. Bisa jadi kita harus bermasalah dengan ipar. Apalagi harus serumah dengan ipar, maka konflik akan mudah tersulut jika kita dan ipar tidak saling berusaha berkomunikasi dengan baik. 

Menjalin hubungan pernikahan memang bukanlah hal yang mudah. Ada saja kerikil tajam selama perjalanan, dan sayangnya pemicu konflik lebih sering adalah keluarga sendiri. Lantas seperti apakah Islam menawarkan solusi permasalahan dan perselisihan rumah tangga? Dalam kaitan ini, Syekh ‘Abdurrahman ibn ‘Abdul Khalik al-Yusuf dalam al-Zawâj fî Zhill al-Islâm (Kuwait: Daru al-Salafiyyah, 1988, cetakan ketiga, hal. 166), mengemukakan, ada beberapa solusi yang ditawarkan kepada pasangan suami istri sebelum atau sewaktu menyelesaikan permasalahan dan perselisihan keluarga yang terjadi di tengah mereka.

Pertama, jika kita dimintai solusi atas masalah yang menimpa saudara atau orang terdekat kita ya bun. Maka sebaiknya kita memposisikan diri kita sebagai pihak-pihak yang berselisih. Tidak karena pihak suami adalah adik kita maka kita condong membela dia atau sebaliknya. Selain itu kita juga harus tahu pangkal sebab musabab adanya konflik dalam pernikahan mereka setelah mencari tahu dari kedua belah pihak. Agar kita sebagai penengah bisa betul adil dalam menyelesaikan. Jangan sampai karena emosi sesaat tanpa mencari tahu ujung pangkal masalah kita memberi solusi yang malah membuat pernikahan saudara kita menjadi semakin memburuk. 

Kedua, Suami istri selayaknya saling memahami kekurangan satu sama lain. Sang istri tidak perlu terlalu menuntut kesempurnaan atas pribadi suami. Suami pun sebagai pemimpin dalam keluarga haruslah senantiasa bersabar untuk selalu mengigat istri dengan penuh kasih sayang. 

إِنَّ الْمَرْأَةَ خُلِقَتْ مِنْ ضِلَعٍ لَنْ تَسْتَقِيمَ لَكَ عَلَى طَرِيقَةٍ، فَإِنِ اسْتَمْتَعْتَ بِهَا اسْتَمْتَعْتَ بِهَا وَبِهَا عِوَجٌ، وَإِنْ ذَهَبْتَ تُقِيمُهَا، كَسَرْتَهَا وَكَسْرُهَا طَلَاقُهَا 

Artinya, “Sesungguhnya wanita diciptakan dari tulang rusuk. Ia tidak akan pernah lurus untukmu di atas sebuah jalan. Jika engkau ingin bersenang-senang dengannya, maka bersenang-senanglah. Namun, padanya tetap ada kebengkokan. Jika engkau berusaha meluruskannya, engkau akan memecahnya. Dan pecahnya adalah talaknya,” (HR Muslim). 

Ada banyak cara dalam menasehati istri, diantaranya dengan cara: 

1. Suami harus menasehati istri dengan penuh kelembutan dan jauh dari amarah 

2. Cari momen yang tepat dan kadar yang tepat pula untuk menasehatinya. Tidak terlalu sering juga jangan pula saat istri keadaan mood yang kurang baik 

3. Jika cara tersebut belum memberikan kesadaran pada istri maka baiknya suami menjauh terlebih dahulu untuk memberikan sang istri kesempatan untuk berpikir 

4. Jika cara terakhir belum cukup ampuh dan memberikan kesadaran yang baik mengenai kesalahannya, maka cara selanjutnya adalah mencari juru damai yang dirasa adil dan bijaksana dalam menyelesaikan permasalahan mereka 


Ketiga, sama-sama saling support dan tahu peran-peran masing-masing. Di zaman serba modern seperti ini banyak kita jumpai pasangan yang sama-sama bekerja ya Bun. Bahkan tidak jarang kita temui pada banyak kedudukan istri dalam pekerjaannya jauh lebih tinggi dari suaminya. Ini menurut saya ujian berat bagi seorang istri. Ujian bagaimana ia bisa menempatkan dua posisi yang berbeda. Di pekerjaannya dia boleh saja menjadi pemimpin dengan banyak anak buah tapi saat di rumah ia harus mampu menguasai egonya untuk menjadikan suami tetap sebagai pemimpin dalam rumah tangganya. Namun demikian saya yakin posisi seperti ini juga bukan posisi yang yang nyaman bagi seorang suami yang sebetulnya memiliki fitroh sebagai pemimpin dalam keluarga. Namun sungguh suami hebat yang mengikhlaskan sang istri mengembangkan kemampuannya bukan untuk dieksploitasi untuk menggantikan perannya dalam memenuhi nafkah rumah tangga. Sungguh jika kita dan pasangan bisa se-supportif ini pastilah rumah tangga senantiasa tenang dan terhindari dari konflik 


Keempat, Jika suami memiliki tabiat kurang baik maka baiknya istri mengoreksi sikap membangkang atau menyimpang suaminya adalah memberi nasihat melalui kerabat atau orang terdekatnya. Walau mungkin istri lebih bijak juga lebih kuat agamanya. Pasalnya, jika istri sikap menyimpang dan membangkang suami secara langsung, boleh jadi hanya akan menambah kerusakan rumah tangga kecuali jika keduanya menyadari kekurangan dan kelebihan masing-masing. 

وَإِنِ امْرَأَةٌ خَافَتْ مِنْ بَعْلِهَا نُشُوزًا أَوْ إِعْرَاضًا فَلَا جُنَاحَ عَلَيْهِمَا أَنْ يُصْلِحَا بَيْنَهُمَا صُلْحًا ۚ وَالصُّلْحُ خَيْرٌ ۗ وَأُحْضِرَتِ الْأَنْفُسُ الشُّحَّ ۚ وَإِنْ تُحْسِنُوا وَتَتَّقُوا فَإِنَّ اللَّهَ كَانَ بِمَا تَعْمَلُونَ خَبِيرًا 

Dan jika seorang wanita khawatir akan nusyuz atau sikap tidak acuh dari suaminya, maka tidak mengapa bagi keduanya mengadakan perdamaian yang sebenar-benarnya, dan perdamaian itu lebih baik (bagi mereka) walaupun manusia itu menurut tabiatnya kikir. Dan jika kamu bergaul dengan isteri mu secara baik dan memelihara dirimu (dari nusyuz dan sikap tak acuh), maka sesungguhnya Allah adalah Maha Mengetahui apa yang kamu kerjakan. 

Semoga kita semua terhindar dari segala macam konflik kelurga dan jika pun harus mencicipi semoga bisa diselesaikan dengan baik. Demikian solusi Islam dalam menyikapi permasalahan dan perselisihan keluarga, sebagaimana yang dikemukakan Syekh ‘Abdurrahman ibn ‘Abdul Khalik al-Yusuf dalam al-Zawâj fî Zhill al-Islâm. Semoga bermanfaat. Wallahu ‘alam.

  

Reference: 

Iqbal Ph.d, Muhammad.2018.Psikologi Pernikahan.Jakarta: PT. Gema Insani 

islam.nu.or.id (2019) “Solusi Islami Atasi Perselisihan Suami-Istri - Ustadz M. Tatam Wijaya”, diakses dari https://islam.nu.or.id/post/read/109218/solusi-islami-atasi-perselisihan-suami-istri pada 31 Januari 2021

11 comments

  1. Hidup kalo tanpa ada konflik, aku yakin itu bakaaaaal sangat membosankan :D. Terlalu smooth. Ga ada tantangan, otak juga ga terlatih untuk mencari solusi :).

    Makanya buatku sesekali konflik, itu perlu banget. Setidaknya ada tantangan masalah yg perlu kita selesaikan. Otak juga terbiasa untuk berfikir jadinya.

    BalasHapus
  2. Konflik memang harus ada dalam sebuah pasangan. Setuju banget kak, karena dengan konflik akan menjadikan hubungan lebih baik lagi dan lebih mengenal satu sama lain, hubungan akan berasa hambar kalau gaknada konflik :)

    BalasHapus
  3. Btw kok pas banget baca artikel ini mbak. Jd referensi buat calon pengenteeen. Xixixi
    Semoga ya kita bisa selalu menghadapi konflik dg kepala dingin dan hati yg ikhlas :D

    BalasHapus
  4. Saya belum nikah dan baca ini jadi seperti dapet pelajaran atau insight kece banget. Konflik itu sepertinya wajar ya dalam kehidupan. Bahkan kehidupan single seperti saya ada juga konflik-konflik yang tak terhindarkan wkwkwk. Hidup emang penuh konflik sepertinya.

    BalasHapus
  5. Buat saya yang belum menikah baca ini jadi lebih terbuka lagi pandangan tentang konflik. Karna memang hidup gak mungkin lempeng teruz,,,

    Thanks for share :)

    BalasHapus
  6. Konfliknya memang gak cuma sama pasangan aja ya. Hidup tanpa konflik kayaknya hambar juga. Bosen tapii kalo konflik terus capek hati dan capek pikiran. Menurutku apa pun konfliknya yang penting komunikasi harus baik.

    BalasHapus
  7. Semoga ada konflik, masalah terselesaikan dengan komunikasi yang baik. Dan niat juga untuk menyelesaikan masalah sampai selesai. Sehingga kedua belah pihak samasama happy

    BalasHapus
  8. Banyak yah konflik ternyata hehe. Skill resolusi konflik memang kudu wajib punya biar ngga ambyar. Aku masih PR nih ngajarin resolusi konflik ke anak aku.

    BalasHapus
  9. nah, bagus ini. konflik pasti selalu ada di sekitar kita. bhkan konflik dengan anggota keluarga terdekat/keluarga inti. tinggal gmn cara kita untuk menghadapi konflik tersebut.

    BalasHapus
  10. Banyak yg bilang jika konflik terberat itu adakah dengan orang terdekat. Semoga dimanaoun kita mampu memposisikan diri dengan baik

    BalasHapus
  11. Makasi mbak tipsnya ini berguna banget untuk melalui konflik sama pasangan. Yaaa namanya juga pernikahan ya.. nggak mungkin lempeng-lempeng aja kam

    BalasHapus