Bahaya! Toxic Parent Bisa Meracuni Psikologis Anak, Kenali 7 Ciri-Cirinya


Rina bingung mengapa dia selalu menjadi obyek kekesalan ibunya. Setiap hari cubitan dan jeweran selalu mengenai tubuh mungilnya. Hanya karena kesalahan-kesalahan yang kadang sepele. Tak cukup dengan siksaan fisik, ibunya kerap memberinya tekanan, umpatan dengan bahasa yang mungkin dia sendiri tidak boleh mengucapkannya. Tapi ibunya sendiri selalu menghinanya dengan kata-kata kasar dan perilaku kasar. Selain itu sebagai anak, Rina tak sedikitpun diberi kesempatan untuk memberi pendapat apalagi untuk memutuskan pilihannya sendiri. Diapun diharuskan mengalah dengan adek-adeknya. Dan selalu menjadi bahan tertawaan di depan saudara-saudaranya. Semua gerak-geriknya selalu dalam pengawasan ibunya dan jika salah sedikit mata ibu selalu melotot dihadapannya. Hidupnya gadis itu penuh tekanan tanpa satupun teman berbagi. Dan sayangnya semua orang tahunya Rina gadis bandel yang menyusahkan orangtuanya. 

Semua masih sama saja hingga Rina beranjak remaja. Tak ada teman berbagi selain sebuah buku kecil, catatan hariannya. Suatu ketika, Rina lupa menyimpan buku kecil itu dan membiarkannya tergeletak di kamar tidurnya. Tapi na’asnya, si adek menemukan buku kecil itu. Anak belum genap 10 tahun itu, mungkin belum mengerti tentang kepemilikan dan cara menghormatinya. Akhirnya buku harian itu, menjadi bahan rebutan kakak-beradek tersebut hingga si adek menangis. Tapi bukannya menasehati si adek, ibunya malah mencubit Rina bertubi-tubi untuk bisa merebut buku dari genggamannya. Mungkin untuk memberi pelajaran kepadanya karena enggan mengalah kepada si adek. Dan yang menyakitkan, Ibunya dengan lantang membaca sebagian dari isi buku dengan tertawa. Rina tidak bisa berbuat apa-apa selain hanya bisa menangis sepanjang waktu karena malu dan sedih. 


Mungkin sepenggal cerita ini cuma fiktif belaka. Namun, cerita didalamnya, saya yakin tidak hanya terjadi oleh satu atau dua anak di dunia ini. Banyak orangtua yang kurang memanusiakan anak-anaknya. Dan menganggap bahwa anak adalah barang miliknya dan lupa bahwa anak juga bernyawa dan memiliki rasa. Saya yakin, setiap orangtua pasti menginginkan yang terbaik buat anak-anaknya. Namun, disadari atau tidak banyak orangtua yang tanpa sadar memaksakan semua keinginan mereka. Mengasuhnya sepanjang waktu, kadang membuatnya terlupa jika anak adalah individu yang lain yang butuh didengar dan dihormati keputusannya. Tapi sayang, karena merasa lebih dewasa dan berpengalaman dari anak, beberapa orangtua menjadi sosok yang merasa selalu benar dan tidak mengahargai keinginan anak. Kemudian mengatur dan memaksa anak untuk teratur sesuai peraturannya tanpa mendengar suara hatinya juga mendengar alasan-alasannya. Kemudian saat anak melakukan kesalahan sekecil apapun itu, kita tega menekannya dan tanpa disadari menyakitinya secara verbal maupun nonverbal. Naudzubillah min dzalik… semoga kita dijauhkan dari syetan yang terkutuk! 


Tahukah Bapak-Ibu..


Dalam istilah psikologi, orangtua seperti ini sering disebut sebagai toxic parents. Istilah toxic parent ini tidak hanya berlaku untuk orangtua melakukan kekerasan verbal maupun non verbal. Toxic parent juga berlaku untuk orangtua yang melakukan tindakan yang bisa meracuni keadaan psikologis anak.


Apa saja tindakan orangtua yang masuk katagori toxic parent

1. Egois


Tidak ada hidup yang bahagia-bahagia saja. Masalah pasti silih berganti datang sebagai utusan Tuhan untuk memberi kita pelajaran. Tapi kita orangtua seolah nelangsa sendiri. Dengan semua bertolak ukur pada perasaan kita dan anak selalu dituntut untuk memahaminya. Jika kesal dengan anak yang sering terlontar adalah menginginkan anak mengerti perasaan kita dengan sering berucap :

“Apa kamu nggak kasihan sama Bunda?”

“Kamu mau Mama mati ya karena ulah nakalmu!”

Dan kata-kata lain seolah anak tak punya cinta kepada orangtuanya. Ini mungkin terlihat sepele. Tapi tahukah Bapak-Ibu.. hal ini sangat membebani anak kita. Dan seolah, anak harus bertanggung jawab atas perasaan orangtuanya.


2. Suka Membicarakan Keburukan Anak


Kita sering lupa, bahwa anak bukan barang milik kita. Dia bernyawa dan punya hati. Tapi sadar atau tidak kita sering mempermalukannya di depan oranglain atau keluarga. Kita mungkin mengaggapnya sepele dan biasa saja tapi kita lupa memposisikan diri kita jika menjadi dirinya. Bagaimana perasaannya jika dengan entengnya kita membuka aibnya dengan berkata, “andi masih suka ngompol lho bude!”, “aduh anak saya masih susah dibangun kalau pagi!”. Padahal si anak yang kita obrolin sedang main dekat kita.


3. Menjadi Rentenir Bagi Anak


Tahukah Pak.. Buk… kita kadang seperti rentenir untuk anak kita! Sikap kita yang selalu mengungkit-ungkit besarnya biaya kita saat mengurusnya seoalah semacam mekanisme pertahanan saat anak ingin menentukan jalannya sendiri. Padahal kita semua sepakat, bahwa memang sudah sepatutnya orangtua berkorban dan mencurahkan segalanya demi anak-anaknya. Jika anak mempunyai pilihan yang mungkin tidak sesuai harapan orangtuanya bukan berarti mereka tidak menghargai jerih payah kita bukan?

4. Memiliki Ekspektasi Berlebihan Kepada Anak


Setiap anak memiliki kelebihan sendiri-sendiri. Ada yang jago main bola, ada yang selalu juara kelas, ada yang mudah berteman, ada juga yang suka menggambar. Tiap anak pasti menginginkan setiap hobi dan bakatnya di support oleh orangtuanya. Namun sayang, mimpi dan cita-citanya kadang dibuyarkan oleh ekspektasi orangtuanya yang berlebihan. Dengan mengatasnamakan kebaikan anak, kita kadang mematahkan cita-cita anak dengan kemauan orangtuanya sendiri. saat kita mengkspektasikan anak selalu juara di kelasnya sedangkan kenyataan ia lebih berbakat dalam hal tarik suara, apakah kita akan memaksa ia seperti yang kita inginkan? Kemudian memaksanya meninggalkan bakatnya untuk sesuatu yang mungkin belum tentu dikuasai dan disenanginya?


5. Sering Meluntarkan Candaan yang Merendahkan Anak


Lelucon ringan kadang tidak sengaja menyakiti anak tanpa kita sadari. Walau tidak semua anak marah jika digunakan sebagai bahan candaan. Tapi sebaiknya hindari bercanda yang berbau fisik seperti warna kulit, jenis rambut, bentuk badan atau apapun yang membuatnya tersinggung. Karena anak kecil juga memiliki perasaan dan malu saat dipermalukan dan direndahkan di depan orang lain.

6. Selalu Menyalahkan Anak


Mungkin kita tidak pernah berkata kasar atau memukulnya. Tapi kita bisa sangat melukai perasannya tanpa melakukan semua hal itu. Salah satunya dengan selalu menimpakan kesalahan pada mereka. Misalnya dengan berkata, “kamu itu bandel ya dan susah untuk dibilangin”. Mungkin kita berharap perkataan kita padanya membuat anak lebih berhati-hati dan tak lagi melakukan kesalahan. Tapi bisa jadi dia malah berbuat yang sesuai perkataan orangtuanya dan semakin susah dibilangin. 

7. Menjadi Monster Buat Anak


Anak memang perlu dilatih kedisiplinan sejak dini. Tapi menggunakan kekerasan dalam mendidiknya bukanlah cara yang tepat. Mungkin beberapa orangtua beralasan kekerasan yang mereka lakukan umtuk membentuk anak agar tidak menjadi pribadi manja. Tapi tahukah Bapak-Ibu, jika hal ini mungkin saja akan ditiru mereka? Jika kita tak menginginkan anak menjadi monster maka janganlah bersikap seperti monster dihadapannya.

2 comments

  1. Makasih sharingnya mbak...
    Utk yg no 7 itu... Memang msh banyak di antara kita yg blm bisa membedakan antara kekerasan dengan ketegasan.
    Keras belum tentu tegas... Dan tegas itu tdk selalu keras. :D

    BalasHapus