( CERPEN ) Aku dan Sang Malam


Senja telah terganti dengan kabut hitam di awan. Penghias langit itu telah berganti menjadi malam yang gelap. Malam ini masih sesunyi kemaren. Hiruk pikuknya seolah hilang di telan pandemi melanda negeri. Aku benci pada sang malam. Karena dia selalu menyisakan derita. Derita yang sudah hafal aku terima.  Mengapa kau tak segera enyah dan berganti dengan pagi hingga kami bisa segera bertebaran ke bumi? Malam yang lapar selalu menyisakan derita untuk perut-perut kami. Seperti biasa dua adik ku merengek lapar padahal kami sudah berbuka dengan sepotong roti pemberian tetangga. Ya.. sepotong roti untuk kami bagi bertiga, sudah lumayan untuk mengganjal perut yang meronta. Tapi dasar bocah, mereka terlalu jujur dan tak bisa menahan kenyataan perih hidup.

“Sudah waktunya berbuka, tapi emak cuma bisa memberimu sepotong roti untuk kalian bagi bertiga. Masih lapar Nak?”, tanya emak kepada kami bertiga.

“Iya mak!”, jawab mereka serempak  sambil mengangguk pelan

Ingin ku bungkam saja kedua mulut mungil mereka tapi ku urungkan karena emak pasti tak suka. Aku sulung, biasa menahan lapar tapi anak-anak sekecil mereka? aku harus mengerti itu. Tapi entah ada ketakutan luar biasa jika emak keluar malam-malam di saat seperti  ini. Aku takut malam membawa pergi emak seperti ia telah menelan habis bapak sebulan lalu. Bapak meninggal di keroyok massa karena di tuduh mencuri kotak amal musholla kampung sebelah. Aku tidak percaya itu, kami miskin tapi bukan hati kami! Hatiku masih sesak mengingatnya.
Malam itu, emak tak bisa ku cegah. Padahal di tengah pandemi seperti ini, apa yang bisa dilakukan malam-malam begini. Mau minta tolong, minta tolong kepada siapa? Semua orang sedang kesulitan. Sungguh mustahil ku rasa sedangkan di saat longgar pun mereka acuh kepada kami apalagi di saat seperti ini. Keluarga pemulung yang kotor seperti ini seolah kasat mata di mata tetangga kami.

“Fit, emak keluar dulu. Jaga adikmu baik-baik jangan kemana-mana, Jangan juga nyari emak! Secepatnya emak kembali.” Perintah emak kepadaku.

“Biar aku aja Mak! Mau kemana sih?”, Rayuku padanya.

“Gak usah, Emak mau ke rumah Bu dhe Yuni. Siapa tahu ada beras yang bisa Emak pinjam!”. Jawab emak sambil bergegas pergi

Malam semakin larut, membuat hatiku semakin kalut. Pandangan mataku tak enyah dari pintu depan satu-satunya pintu yang kami punya. “Mengapa Emak tak jua pulang?”batinku seolah berteriak. Ingin rasanya ku tinggalkan adik-adik untuk mencarinya. Tapi pesan Emak mengurungkan niatku. Aku tak bisa berbuat apa-apa selain berperang dengan nyamuk yang seolah bersekongkol dengan malam. Ikut memusuhi kami, agar adik-adik terbangun dengan lambung yang perih keroncongan.

“Dok..dok… dok”, suara pintu diketuk membangunkan lamunanku.

Aku seolah ingin melonjak kegirangan karena emak sudak kembali. Tapi sayang, perkiraan ku salah. Ternyata di depanku adalah Bu dhe Yuni dengan membawa sepiring nasi penuh di tangan kanannya. “Wes maem nduk?” tanyanya penuh kasih.

“Sampun Bu dhe!”, jawabku ragu karena tak terbiasa berbohong. Sambil menerima sepiring nasi dari Bu dhe.

“Saya kira emak ke rumah Bu dhe!”, tanyaku balik pada Bu dhe

Dengan raut muka khawatir, Bu dhe bercerita“Enggak nduk.. Emakmu gak ke rumah. Ooh ya mungkin tadi sebelum isya mungkin. Sabun cuci Bu dhe habis, padahal baju kotor wes numpuk segunung. Aku terus metu karo Pak dhemu. Mungkin Emakmu mrene, aku gak enek. Belum pulang to?".

“Belum Bu dhe”, Jawabku lagi.

“Yoh gek kemana Emakmu ki Nduk? Meh tengah wengi gini kok belum pulang. Yo wes kamu jaga adekmu baik-baik. Aku tak bangune Pak dhemu, tak golek ane emakmu!” Perintah Bu dhe kepadaku.

“Suwun Budhe”, jawabku dengan senyum tanda terimakasih.

Hanya keluarga Bu dhe Yuni yang mengerti kami. Mereka bukan keluarga kami sebetulnya. Tapi karena kami dari kota yang sama saja yang membuat kami seperti saudara. Ya.. lima tahun lalu bapak memboyong kami sekeluarga ke Jakarta. Kota yang belum pernah sekalipun kami pijak sebelumnya. Bahkan dalam mimpi. Aku hanya tahu kemegahannya dari TV milik tetangga. Bapak terhasut dengan iming-iming pak Joko dan menjual sepetak tanah satu-satunya peninggalan mbah kakung untuk merantau ke Jakarta. Setelah pekerjaan bapak sebagai buruh tani semakin sepi saja. Sungguh malang nasib kami. Ternyata pekerjaan sebagai penjaga gudang dengan gaji besar hanya bohong semata. Padahal separo lebih warisan sudah masuk di perut buncit pak Joko. Tapi pak Joko pergi entah kemana rimba nya. Ya sudahlah, mengingat kejahatan orang hanya membuat hati semakin sesak!

Pandemi membuat lapar kami semakin menjadi. Kemaren kami masih bisa keluyuran mencari kerja serabutan. Emak mulung dan aku bisa bantu jual Koran, semir atau apapun itu. Tapi pandemi membuat pendapat berkurang drastis. Aku pun harus kerja dengan dengan hati gusar karena penjagaan semakin di perketat. Anak umur 14 tahun seperti ku memang seharusnya di rumah saja. Belajar seperti  Tono menggunakan HP pintar. Tapi apa daya aku tak seberuntung Toni tetangga sebelah. Dan tragisnya Bantuan pemerintah pun tak bisa kami dapat. Karena kami bukan penduduk asli dan KTP emak pun masih tertera sebagai penduduk Blitar. Bagaimana emak bisa pulang ngurus KTP, sementara buat hidup saja kami masih kesulitan.

Waktu sahur telah tiba tapi Bu dhe Yuni belum juga memberiku kabar gembira. Ingin rasanya aku lari ke rumahnya untuk menanyakan perihal Emak. 

“Yan.. bangun nduk… sahur sek!’, ku bangunkan Yanti adek ku pelan. Sengaja ku biarkan Bagas tertidur lelap. Anak belum genap lima tahun itu biar tidak berpuasa dulu.

“Emak sudah pulang mbak?”, Tanya Yanti membuat ku semakin sedih.

“Belum Yan..! Dapat nasi dari Bu dhe sampeyan maem separo, seng separo buat adek mu sarapan nanti. Mbak gak usah sampeyan bagi. Tolong jaga adekmu yo Yan! Mbak tak ke rumah Bu dhe tanya keadaan Emak!”, ucapku pada Yanti yang sedang makan sahur.

“Enggeh mbak”, terdengar dia menjawab

Tapi sampai di depan pintu terdengar ribut-ribut di depan rumah. Ada Bu dhe, pak dhe, pak RT dan beberapa tetangga. Hatiku semakin tak karuan. Aku langsung lari menghampiri Bu dhe.

“Emak pundi Bu dhe?”, tanyaku sambil menangis.

Tapi Bu dhe cuma diam memelukku erat sambil menangis sesenggukan.

“Sabar yo nduk Fit! Emakmu diketemukan tertabrak mobil di jalan besar. Ternyata emakmu nekat mulung wengi-wengi nduk. Mungkin pas enek razia emakmu lari terus tertabrak mobil. Sabar yo nduk!", Pak dhe menjelaskan peristiwa yang menimpa Emak dengan sedih.

Aku teriak sejadi-jadinya di pelukan Bu dhe tak peduli waktu masih lah gelap. Teriakan ku membuat warga semakin berdatangan. Sementara sorot mobil ambulan seolah menelanjangi penderitaan ku dari ujung gang. Terlihat ada beberapa petugas rumah sakit dibantu warga membawa tubuh Emak dalam tidur panjangnya. 

“Emak.. Mak.. bangun Mak”, aku menghampiri tubuh emak yang sudah mulai kaku.

Sementara Yuni dan Bagas ikut menangis terisak. Bagaimana aku bisa menggantikan posisi Emak dan Bapak. Semetara tubuh ku belum cukup mampu menanggung beban seberat ini. Ditinggal Bapak sebulan lalu sudah menjadi pukulan berat bagi kami bertiga. Kini Emak menyusul  Bapak ikut menghilang di telan sang malam. Aku pasrah kan hidupku dan adik-adik pada Mu Tuhan. Aku yakin malam adalah makhluk Mu yang baik yang tak hanya memberikan perihnya kehidupan tapi jua bintang yang tak lama lagi bersinar di kehidupan kami yang sekarang kelam.

24 comments

  1. Ini fiksi mini atau cerpen? Hehe .. Btw, Semangat menulis. Salam literasi

    BalasHapus
  2. Cerpen Mbak bagus banget. Saya jadi terharu, dan saya kira dalam masyarakat kita banyak kejadian ini ya.

    BalasHapus
  3. Cerpen yang terinspirasi dari kehidupan yang ada di dekat kita. Cerpennya bagus, mba. Ditunggu cerpen berikutnya.

    BalasHapus
  4. Sambil baca sambil ikut merasakan kelaparan dan khawatir karena emak blm pulang dan tenryata kecelakaan ya :(
    Keren cerpennya mbak.. Bisa membawa pembaca masuk ke dalam suasana :)

    BalasHapus
  5. Komentar ini telah dihapus oleh pengarang.

    BalasHapus
  6. Cerpennya bagus, tapi sedih. Ini yang mungkin terjadi di luar sana.
    Fit, yang kuat ya, jaga adik-adik dan nurut pak Dhe, Bu De ya.

    BalasHapus
  7. Cerpennya bagus mbak, sangat dekat dg kehidupan sehari-hari.

    BalasHapus
  8. Keren mba, cerpennya. Duh, ikutan terharu dan berpikir harus melakukan apa buat bisa bantu si sulung Fitry. Semoga dirimu dan adik-adik selalu diberikan kesehatan, kelancaran rezeki, dan kebahagiaan, aamiin.

    BalasHapus
  9. Ceritanya sangat sedih ya, nggak kebayang bila itu terjadi di posisi saya, pasti nggak karuan.

    Masih menunggu kelanjutan kisahnya semoga dg akhir bahagia.

    BalasHapus
  10. hebat euy bisa menulisakan cerita kaya hini kak...adakah lanjutan kisahnya? ditunggu ya mak

    BalasHapus
  11. cerita diatas mengingatkan saya seperti acara di tv trans7 yang mengangkat ksiah anak-anak yang sebenarnya belum cukup dewasa untuk menerima cobaan hidup sebesar orang dewasa huhu

    BalasHapus
  12. Walau sedih tapi menginspirasi mba.

    Mba, Mohon maaf lahir dan batin ya semoga kita dipertemukan dengan Ramadan tahun depan dengan situasi yang jauh lebih baik lagi :)

    BalasHapus
  13. Ya Allah
    sedih banget nasibmu, Nak
    Sekecil itu menanggung beban berat kehidupan

    BalasHapus
  14. Cerita yang bagus, lanjutkan mbak. Semoga lancar ya menulisnya

    BalasHapus
  15. Ceritanya bagus, potret kehidupan yang banyak terdapat di sekitar kita. Penulisannya juga tersusun dengan rapi. Kalau boleh sedikit kritik adalah akhir cerita yang mudah ditebak.

    BalasHapus
  16. Sepertinya ini masuk cerpen, ya? Kalau boleh kasih saran, ada penulisan yang perlu diperbaiki, seperti penulisan double tanda baca setelah tanda seru dikasih koma, sebaiknya kasih tanda seru saja, satu lagi penulisan dialog tagnya perlu diperbaiki, beri tanda koma Sebelum memberi petikan penutup. Semoga berkenan dengan Saran dari saya, kalau ide cerita udah lumayan, sih.

    BalasHapus
  17. Cerpen ini mengingatkan kita agar lebih peduli. Aku merinding bacanya. Kita sebagai tetangga, seharusnya bisa menjadi keluarga paling peduli.

    BalasHapus
  18. duuhh sedih banget sih Mbak ceritanya.
    tapi kejadian seperti ini masih ada pasti diluaran sana, hiiks.

    BalasHapus
  19. Kalau melihat banyak kata sepertinya tulisan ini masuk di kategori cerpen ya. Lebih detil dan panjang alur ceritanya. So far menarik sih. Sedih dan sesuai dengan sityasi sekarang.

    BalasHapus
  20. Apakah kelanjutannya ketiga bocah itu bersama Bu Dhe Yuni? Ngenes, sedih, dan bingung lagi mau komen apa

    BalasHapus
  21. Kondisinya relate banget ya sama apa yang terjadi hari ini. Banyak orang yang merasakan kelaparan karena pembatasan sana sini.

    Tapi, saya kok jadi mikir gini ya. Masa orang mau diam saja selama 2 bulan ini? Masa cuma mau berharap pandemi selesai aja? Kan mestinya melakukan sesuatu agar dapur tetap mengepul.

    Cuma mikir gitu sih.

    BalasHapus
  22. Sedih banget mba ceritanya, apalagi dijelaskan dengan jalan cerita yang mudah dipahami. Bikin pembaca jadi terbawa sama suasana isi ceritanya. Menarik mba

    BalasHapus
  23. Baca ini tuh bikin aku jadi ingin melanjutkan kisah fiksi aku yg masih belum kelar-kelar juga hehe

    BalasHapus